[BEDAH SISTEM] Kenapa Google Buat "Birokrasi" Data yang Ruwet? (Blogger vs GSC vs GA4)
BAB I
Pendahuluan
Birokrasi Digital yang "Mubazir"
Sebagai seorang blogger pemula, selain menulis kita juga mencari materi, judul, Search Engine Optimization (SEO) dan meta deskripsi yang bagus agar algoritma Google suka saat mencicipinya. Kita itu butuh data bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi buat susun strategi perang yang akurat.
Namun, Pernahkah kalian frustrasi gara-gara kebingungan membedakan ketiga alat tempur perang kita yaitu Blogger, Google Search Console (GSC) dan Google Analytics (GA4)? Ini adalah masalah Fragmentasi Fungsionalitas.
Ketika ingin lihat pengunjung kita buka Blogger, masuk ke statistik waahh pengunjung hari ini 1000, tapi di bawah data ada internal linking "Lihat lebih lanjut tentang Google Analytics".
Ini seperti Google melakukan teknik SEO menautkan internal linking-nya sendiri. Seakan mengatakan: "Itu tidak akurat, lihat sini data pengunjung yang lebih akurat." Ini adalah pengakuan atas Misalignment Data.
Sama halnya ketika kita lagi setting blog, gulir ke bawah tentang crawler & pengindeksan ada tautan Internal linking lagi yang mengarah ke GSC. Ini sangat membingungkan bagi pemula, seakan Google mengajari cara main SEO.
Jujur saja, sebagai orang yang terbiasa berpikir efektif dan efisien, sistem Google ini membuat saya frustrasi berat. Ini adalah Context Switching Cost yang tinggi.
Bayangkan ini: Anda punya satu kantor (Blog), tapi untuk melihat laporannya, Anda harus pergi ke 3 cabang yang berbeda karena adanya Data Silo.
👉Mau Menulis artikel? Buka Blogger.
👉Mau lihat kesehatan dan pengindeksan situs? Buka GSC.
👉Mau lihat siapa pengunjungnya? Buka GA4.
Kenapa harus serumit ini? Bukankah Google perusahaan teknologi tercanggih? Kenapa sistemnya mirip birokrasi KTP yang harus fotokopi lagi?
Ini adalah pemborosan waktu dan energi. Kita dipaksa membuka 3 tab, login 3 kali, dan membaca 3 data yang angkanya seringkali bertabrakan (tidak sinkron).
Sebagai Analis Sistem, praduga liar saya bergejolak melihat sistem yang berlebihan. Apakah ini ketidakmampuan teknis, atau ada "politik data" di belakangnya?
🚨 Klaim Penulis:
Saya Elrumi, S.H. Sebagai praktisi hukum yang terbiasa membedah birokrasi negara, dan kini sebagai penerbit YMYL, saya melihat pola 'inefisiensi birokrasi' yang sama di dalam ekosistem Google. Saya akan mencoba membedah kasus inefisiensi ini dalam 3 cabang kantor yang berkaitan dengan blog. Studi kasusnya dari sisi fitur, sisi Yurisdiksi (Kewenangan) data yang tumpang tindih.
BAB II
Fragmentasi Fungsionalitas
Inefisiensi Fitur dan Pemisahan Paksa
Setelah kita mengidentifikasi masalah utama sebagai "Birokrasi Digital" dan "Context Switching Cost" pada Bab I, kini kita akan membedah Fragmentasi Fungsionalitas (Pemisahan Fitur) dari ketiga alat ini. Fragmentasi ini bukan hanya memecah data, tetapi juga memecah proses kerja kita, memaksa kita menggunakan alur yang tidak efisien.
Dalam imajinasi kita, jadi penulis blog di google itu simple, hanya tinggal menulis dan publish itu akan masuk dengan sendirinya di pencarian. Kenyataannya tidak semudah dan seindah yang dibayangkan.
Ini wajar karena mindset kita masih berpatok pada media cetak seperti koran atau media sosial seperti Facebook atau Twitter. Buat postingan otomatis ada halaman pencarian.
Pada BAB ini saya tidak membahas tutorial penggunaan 3 serangkai google, tapi lebih ke membedah sistem yang telah mereka sediakan untuk para blogger.
1. Blogger: Si Frontend yang Timpang
Blogger seharusnya menjadi platform penerbitan artikel yang mandiri. Namun, Google dengan sengaja mendesainnya sebagai platform frontend yang fungsionalitasnya dipangkas. Hanya untuk menulis dan mempublikasi (atau mempublish).
Tugas Inti yang Didelegasikan: Blogger tidak memiliki mekanisme diagnosis kesehatan situs yang memadai. Untuk melihat apakah artikel Anda berhasil di-crawl, di-indeks, atau apakah ada error penting, Blogger tidak berdaya. Ia harus mendelegasikan tugas vital ini ke GSC.
Percuma jika artikel kita bagus, mendalam dan bermanfaat tapi jika ada masalah kesehatan situs, sampai kapanpun tidak akan pernah muncul di pencarian.
Kecemasan Sistem: Sebuah sistem penerbitan yang ideal harus memiliki built-in health check. Pemisahan ini menciptakan dependency (ketergantungan) paksa pada alat lain, menunjukkan bahwa Blogger hanyalah alat entry-level yang tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan secara profesional.
Analogi : Ibarat sebuah Restoran kita sudah membuat menu baru yang kita anggap enak, tapi akan percuma jika tidak muncul di meja menu pengunjung, kita masih harus ke departemen pengujian rasa (GSC) untuk dicicipi apakah ini worth it untuk pelanggan VIP Restoran.
Statistik yang Hanya Vanity: Data pengunjung Blogger terkesan "terlalu optimis" dan tidak "realistis" seringkali jauh lebih tinggi dibandingkan data dari GA4. Angka ini berfungsi sebagai Data Vanity (pemuas ego) bagi penulis pemula, bukan sebagai Data Akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil keputusan bisnis.
Kritik Sistem: Jika data tersebut tidak akurat, mengapa Google tetap menampilkannya? Bukankah ini data palsu?
2. Google Search Console (GSC): Hanya untuk Auditor Google
GSC adalah alat yang memiliki yurisdiksi paling spesifik: Bagaimana Google melihat situs Anda. Namun, fungsionalitasnya berhenti tepat di ambang pintu behavioral data.
Fokus Terlalu Sempit: GSC kuat pada Impressions, Clicks, Average Position, dan Crawl Stats. Ini semua adalah data Server-Side yang dikumpulkan Google. Tetapi, setelah pengunjung mengklik dan masuk ke situs Anda, peran GSC selesai sampai di situ.
Kritik Sistem: Seorang blogger membutuhkan analisis yang holistik. GSC tidak dapat memenuhi dan menjawab pertanyaan krusial seperti: "Berapa lama mereka membaca artikel saya setelah mengklik?" atau "Apakah mereka scroll sampai bawah?" Untuk mendapatkan insight tersebut, Anda dipaksa berpindah ke GA4.
Duplikasi Data yang Tidak Perlu: GSC menampilkan data Queries (kata kunci) pencarian dan Landing Pages. GA4 juga dapat menunjukkan sumber traffic organik dari Google Search. Walaupun datanya berbeda (GSC adalah raw data Google dan GA4 adalah client-side), output informasi dasarnya berulang, memaksa kita membandingkan data yang berbeda untuk tujuan yang sama.
Analogi: Ini adalah Departemen pengujian Menu yang kita buat, apakah sudah diindeks? Apakah tidak ada salah pengindeksan? Atau Menu kita tidak diindeks karena restoran kita masih baru, masih belum dipercaya oleh Pengelola. Mereka hanya melihat seberapa banyak pengunjung yang masuk lewat pintu utama Restoran, tapi tidak tau berapa lama pengunjung di sana dan dari mana asalnya.
3. Google Analytics 4 (GA4): Analis Perilaku yang Terpisah
GA4 adalah alat yang berfokus pada Perilaku Manusia (Client-Side Data). Alat ini adalah pakar dalam menganalisis user journey dan konversi, namun terisolasi dari proses SEO.
Kesenjangan Keyword: GA4, karena alasan privasi dan enkripsi, seringkali menyembunyikan kata kunci (keyword) yang digunakan pengguna, menampilkannya sebagai (not provided). Sementara itu, GSC menyimpan keyword tersebut.
Kritik Sistem: Kita memiliki dua alat Google yang seharusnya bekerja sama, namun mereka secara sengaja menahan informasi vital satu sama lain. Seorang blogger harus mencocokkan secara manual page di GSC dengan session di GA4 untuk mendapatkan gambaran utuh kinerja kata kunci. Ini adalah inefisiensi integrasi yang ekstrem.
Analogi: ini adalah resepsionis Restoran kita, mereka punya data-data pengunjung, tau seberapa lama mereka melihat-lihat menu sebelum memutuskan pembeliannya. Tapi resepsionis punya kode etik sendiri untuk tidak menampilkan kueri pencarian pelanggan.
| Fungsionalitas | Google Search Console (GSC) | Google Analytics 4 (GA4) |
|---|---|---|
| Yurisdiksi Data | Server-Side (Apa yang dilihat Google) | Client-Side (Apa yang dilakukan Pengunjung) |
| Fokus Utama | Kesehatan Situs, Crawl, Indexing, Keyword Ranking, Impressions. | Perilaku Pengunjung, Durasi Sesi, Sumber Traffic, Konversi. |
| Kelemahan | Tidak bisa melihat Perilaku (Scroll, Time on Page). | Sering menyembunyikan Keyword (Data not provided). |
🚨Kesimpulan Cepat:
Disetiap tools tidak ada yang lebih kuat dari yang lain. Seakan google sengaja agar menyeimbangkan setiap fitur dari ke 3 tools tersebut. Praduga saya ada 2: Pertama, "Google ingin menyehatkan situs agar tidak ada yang tumpang tindih namun selaras". Kedua, "Google menerapkan bisnis. Mereka ingin semua ciptaanya terpakai dan tidak sia-sia".
BAB III
Politik Data vs. Kesehatan Ekosistem
Mengadili Motivasi Google
Pernahkah kita bingung frustasi untuk membedakan ke 3 serangkai google (Blogger, GSC,GA4)? Di dalam hausnya informasi kita mencari di pencarian "Apa bedanya Blogger, GSC dan GA4" berderet muncul artikel-artikel yang membahasnya, tidak sedikit yang menjadi juru bicara online google. Padahal bukan ini jawaban yang kita mau, lebih tepatnya "Mengapa Google Melakukan itu".
Pada Bab I, kita telah menetapkan dakwaan: ekosistem Google adalah sebuah "Birokrasi Digital yang Mubazir" lahir dari "politik data". Pada Bab II, kita telah membedah barang bukti: "Fragmentasi Fungsionalitas" yang disengaja, di mana Blogger, GSC, dan GA4 sengaja dibuat tumpang tindih dan saling melempar "kewenangan" (yurisdiksi).
Analisis kerangka bukti di Bab I dan II telah membawa kita pada dua Praduga liar yang saling bertentangan:
- Praduga Naif (Kesehatan Ekosistem): Google memisahkan 3 serangkai ini untuk "menyehatkan situs," menciptakan sinergi di mana setiap alat memiliki tugas spesifik agar tidak tumpang tindih.
- Praduga Realis (Politik & Bisnis): Google sengaja melakukan ini agar "semua ciptaannya terpakai," sebuah model bisnis yang didasarkan pada inefisiensi yang terkendali.
Kini, di Bab III, kita akan mengadili kedua Praduga liar ini untuk menemukan motivasi (mens rea) di balik birokrasi ini yang tersembunyi.
1. Membedah Praduga Naif: "Sinergi yang Sehat"
Mari kita berikan argumen yang adil untuk praduga pertama. Para pembela (Juru bicara online) Google akan berargumen bahwa ini adalah praktik terbaik dalam desain sistem, yang disebut Separation of Concerns (Pemisahan Tugas).
- Blogger adalah Content Management System (CMS). Tugasnya hanya menulis dan menerbitkan.
- GSC adalah Alat Webmaster. Tugasnya hanya berurusan dengan data teknis (Server-Side).
- GA4 adalah Alat Pemasaran. Tugasnya hanya berurusan dengan data perilaku (Client-Side).
Secara teori, pemisahan ini terlihat logis dan rapi.
Putusan Sanggahan (Rebuttal): Argumen ini gugur di ruang sidang.
Mengapa?
Karena bukti di Bab II menunjukkan bahwa pemisahan ini tidak rapi. Mari kita lampirkan bukti yang telah kita bedah.
- Bukti: Data Queries dan Landing Pages ada di GSC dan GA4. Ini bukan pemisahan yurisdiksi, ini adalah yurisdiksi tumpang tindih yang membingungkan Penerbit.
- Bukti: Blogger (CMS) masih memiliki data statistik "vanity" sendiri, yang secara langsung bertabrakan dengan yurisdiksi GA4.
- Bukti: GSC dan GA4 "menahan informasi vital" (keyword vs. perilaku) satu sama lain. Ini bukan sinergi lagi tapi ini adalah silo yang saling mengunci.
Jika tujuannya adalah "kesehatan situs," Google akan menyediakan satu dashboard terpadu seperti Mall Pelayanan Publik. Fakta bahwa mereka tidak melakukannya, dan malah memaksa kita melakukan "Context Switching Cost," membuktikan bahwa "kesehatan ekosistem" bukanlah motif utamanya.
2. Membedah Praduga Realis: "Birokrasi adalah Model Bisnis"
Sekarang mari kita uji Praduga kita yang kedua: Inefisiensi ini disengaja untuk keuntungan bisnis semata. Sebagai analis sistem dan praktisi hukum, bukti materialnya jauh lebih kuat di sisi ini.
A. Dominasi Ekosistem (Ecosystem Lock-in)
Fragmentasi fungsionalitas bukanlah kelemahan desain; itu adalah strategi penguncian (lock-in).
Dengan "memangkas" fungsionalitas Blogger, Google memaksa setiap penulis blog (bahkan pemula) untuk segera belajar dan mengadopsi GSC. Dengan membatasi GSC hanya pada data server-side, Google memaksa mereka yang serius tentang audiens untuk mengadopsi GA4.
Google tidak hanya memberi kita satu alat saja, ia memaksa kita untuk hidup di dalam tiga properti miliknya. Ini adalah cara brilian untuk mendominasi tiga ceruk pasar sekaligus: Penerbitan (CMS), Audit Teknis (SEO), dan Analitik (Marketing).
B. Melayani Dua Tuan (Webmaster vs. Marketer)
Google melayani dua "klien" utama yang berbeda, dan birokrasi ini diperlukan untuk memisahkan mereka:
- Klien 1: Webmaster/Penerbit YMYL (Kami). Kebutuhan kita: Data teknis, performa konten, E-E-A-T. Alat kita: GSC.
- Klien 2: Marketer/Pengiklan. Kebutuhan mereka: Perilaku audiens, konversi, Return on Investment (ROI) iklan. Alat mereka: GA4 (yang terintegrasi erat dengan Google Ads).
Kita, para blogger, adalah satu-satunya pengguna yang terjebak di tengah. Kita harus menjadi webmaster dan marketer sekaligus. Birokrasi ini ada karena Google tidak mendesain alat untuk "blogger"; mereka mendesain alat terpisah untuk "webmaster" dan "pengiklan." Lagi-lagi blogger ada di posisi tawar yang lemah.
Pemisahan ini memungkinkan Google untuk memonetisasi audiens marketer (via Google Ads) tanpa mengganggu audiens webmaster dengan metrik bisnis yang rumit.
C. Birokrasi sebagai Gerbang Tol Data
Ini adalah inti dari "politik data". Dalam birokrasi, siapa yang paling berkuasa? Dia yang mengendalikan alur informasi.
Google adalah penjaga gerbang (gatekeeper).
Dengan menyembunyikan keyword (not provided) di GA4 atas nama "privasi," namun menyimpannya di GSC, Google menciptakan kelangkaan informasi buatan.
Mereka memberi kita data yang cukup di tiga tempat berbeda agar kita tetap bergantung, tetapi tidak pernah memberi kita gambaran utuh di satu tempat.
Mengapa?
Karena gambaran utuh itu data SEO teknis digabung dengan data perilaku audiens secara real-time adalah aset data paling berharga di dunia. Tujuannya jelas yaitu iklan spesifik yang akan memaksimalkan klik. Dan Google tidak akan memberikannya secara gratis.
🚨Kesimpulan Cepat: Putusan Akhir atas Motivasi
Dakwaan di Bab I terbukti. Bukti di Bab II sangat kuat.
Dengan ini diputuskan:
Inefisiensi dan birokrasi dalam ekosistem Blogger-GSC-GA4 bukanlah kegagalan teknis atau bug, melainkan fitur bisnis yang disengaja.
Motif Google bukanlah "kesehatan ekosistem" yang naif. Motifnya adalah Politik Data untuk Dominasi Ekosistem.
"Birokrasi digital yang mubazir" ini adalah harga yang harus kita (para penerbit YMYL dan blogger) bayar untuk dapat beroperasi di dalam ekosistem mereka. Kita dipaksa menanggung "Context Switching Cost" agar Google dapat secara efisien melayani dua tuan (Webmaster dan Pengiklan) dan mempertahankan posisinya sebagai penjaga gerbang data yang absolut.
BAB IV
Penutup
Menjadi Navigator dalam Birokrasi Google
Setelah kita menempuh jalan yang panjang. Perjalanan kita dimulai dari frustrasi di Bab I saat mengidentifikasi ekosistem Google sebagai "Birokrasi Digital yang Mubazir." Perjalanan itu berlanjut di Bab II di mana kita membedah barang bukti dan menemukan "Fragmentasi Fungsionalitas" yang disengaja. Dan akhirnya, di Bab III, kita telah menjatuhkan putusan: Motif di balik semua ini bukanlah kegagalan teknis, melainkan "Politik Data" untuk dominasi ekosistem.
Kasus ini resmi ditutup. Putusan telah dijatuhkan.
Kini, muncul pertanyaan pamungkas: Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Jika kita tidak bisa mengubah birokrasi, kita harus mengubah cara kita beroperasi di dalamnya.
1. Menerima Realitas Sistem
Putusan di Bab III seharusnya membebaskan kita dari harapan palsu. Kita harus berhenti berharap bahwa suatu hari nanti Google akan "memperbaiki" ini dan menggabungkan GSC dan GA4 ke dalam Blogger menjadi satu dashboard "Mall Pelayanan Publik."
Seperti yang telah kita buktikan, birokrasi dan pemisahan yurisdiksi ini adalah fondasi bisnis mereka, bukan kesalahan yang harus diperbaiki. Menerima kenyataan ini adalah langkah pertama untuk memenangkan "perang data" kita.
2. Strategi Sang Navigator Birokrasi
Kita tidak bisa lagi menjadi "pengguna" yang naif. Kita harus berevolusi menjadi "Navigator Birokrasi" yang cerdik.
Jika sistem memaksa kita pergi ke tiga loket yang berbeda, maka kita harus menjadi ahli dalam efisiensi loket. Berhentilah mencoba mencari satu angka di tiga tempat. Mulailah menggunakan setiap alat sesuai "yurisdiksi" spesifiknya yang telah kita bedah:
👉Butuh data Kesehatan Teknis? (Apakah artikel saya diindeks? Ada error 404?)
✔️Pergi ke Loket GSC. Jangan buang waktu mencari ini di GA4.
👉Butuh data Perilaku Manusia? (Berapa lama mereka membaca? Dari mana asalnya?)
✔️Pergi ke Loket GA4. Terima saja bahwa data keyword (not provided) adalah harga yang harus dibayar.
👉Butuh data Kata Kunci (Queries)? (Orang menemukan saya pakai kata apa?)
✔️Pergi ke Loket GSC. Jangan pusingkan mengapa angkanya beda dengan sesi di GA4. Keduanya mengukur hal berbeda (Server-Side vs. Client-Side).
👉Butuh data Pemuas Ego (Vanity)?
✔️Lihat statistik Blogger, tersenyumlah, lalu segera lupakan dan buka GSC/GA4 untuk data akuntabilitas.
Jangan lagi membandingkan apel (data GSC) dengan jeruk (data GA4). Gunakan apel untuk mengukur kesehatan pohon, dan jeruk untuk mengukur kepuasan pelanggan.
3. Klaim Penutup: Dari Pengguna Frustrasi Menjadi Analis Cerdik
Sebagai seorang praktisi hukum yang kini menjadi penerbit YMYL, saran terakhir saya adalah: Perlakukan data blog Anda seperti Anda mengurus "Sertifikat Tanah."
Prosesnya rumit, birokratis, datanya tersebar di kantor-kantor yang berbeda, dan seringkali tumpang tindih.
Tugas kita bukanlah mengeluh tanpa akhir (walaupun artikel ini adalah bentuk kritik yang sah). Tugas kita adalah menjadi teliti. Membaca setiap dokumen dari setiap loket dengan cermat, memahami kewenangan masing-masing, dan menyusun sendiri gambaran besarnya.
Google telah membangun birokrasinya. Kita tidak bisa meruntuhkannya, tapi kita bisa menguasai alurnya.
Berhentilah menjadi pengguna yang frustrasi. Mulailah menjadi analis sistem yang cerdik.
Baca juga artikel kami
[CURHAT 27 HARI "PENDING"] Membongkar Aturan AdSense yang Tidak Pasti. Kenapa Google "Abu-abu"?
Dilema "Jackpot" 12 Hari Halaman 1 Google & Realitas "Sandbox" (Data GSC Saya)
Tentang Penulis:
Artikel ini ditulis oleh Elrumi, Sarjana Hukum (S.H.) dan Analis Praktis Sistem dan juga pendiri https://www.kuncipro.com/. Sedang mengalami kegelisahan tentang penggunaan dari 3 serangkai google.
[Klik disini untuk Verifikasi lebih lanjut tentang profil dan misi penulis]
Komentar
Posting Komentar