[INVESTIGASI] PENGKHIANATAN PLATFORM: Kenapa JobStreet & Glints Kebobolan Loker Judi & Penipuan?
Oleh: TRI LUKMAN HAKIM S.H., – Analis Sistem & Hukum
PROLOG INVESTIGASI
Pernahkah Anda bertanya: "Kenapa aplikasi pencari kerja (Job Portal) yang valuasinya triliunan rupiah, punya tim IT ribuan, dan kantor mentereng, masih bisa kebobolan loker penipuan?"
Kita didoktrin untuk percaya bahwa jika ada logo perusahaan besar (sebut saja JobStreet, Glints, LinkedIn, atau KitaLulus), maka lowongan di dalamnya pasti aman.
Lulusan baru atau kena PHK atau risegn pasti mencari info loker di platform tersebut, kita dicuci otak bahwa apa yang ditawarkan di dalamnya adalah perusahaan bonafid, berkelas dan dapat dipercaya.
ITU ADALAH ILUSI KEAMANAN TERBESAR ABAD INI.
Faktanya, platform rekrutmen hari ini tak ubahnya seperti Pasar Gelap yang diberi AC. Mereka hanya membalas lamaran kita jika sudah berpengalaman minimal 5 tahun ke atas dengan jobdesk spesifik.
Jangan harap lulusan baru atau pengalaman masih 1-4 tahun berharap ada kelanjutan proses perekrutan.
Sebagai Sarjana Hukum yang juga menyoroti kelemahan sistem digital, saya melakukan analisis yang mendalam bukan dari kata orang, tapi dari pengalaman menggunakan berbagai macam platform termasuk JobStreet: Bagaimana sindikat Judi Online (Judol), Freelance Bodong, dan Maling Data bisa menembus benteng pertahanan "Si Raksasa"?
π BERKAS INVESTIGASI:
BAB I
CELAH SISTEM "PT PERORANGAN" (VERIFIKASI KERTAS, BUKAN FISIK)
Banyak pelamar membela: "Kan kalau mau posting loker harus upload legalitas PT/CV? Kok penipu bisa lolos?", "Ga mungkinlah mereka pasti cek data".
Jawabannya: BENAR, TAPI ada celah pada regulasi yang disalahgunakan: PT PERORANGAN.
Sejak adanya UU Cipta Kerja, membuat PT Perorangan bisa dilakukan online (via OSS), modal KTP, bayar PNBP murah (sekitar 50-100 ribu), dan jadi dalam hitungan jam. Suratnya Resmi. Legalitasnya Sah.
Celah Sistemnya:
Algoritma verifikasi Job Portal hanya mengecek "Kelengkapan Dokumen", bukan "Kebenaran Operasional".
Sindikat Judol membuat PT Perorangan (misal: PT Maju Mundur Cuan).
Mereka upload NIB dan SK Kemenkumham ke Job Portal.
Sistem Job Portal mendeteksi dokumen asli \rightarrow AKUN VERIFIED (CENTANG BIRU/UNGU).
Robot verifikasi tidak punya kaki untuk mengecek apakah kantor PT Maju Mundur Cuan itu beneran ada, atau cuma ruko kosong sarang operator judi di Kamboja.
Sekarang begini, Apakah ada yang diterima kerja dari platform loker di atas?
Mungkin ada tapi hanya 1% dari jutaan pelamar.
Kalian pasti tidak melamar hanya pada satu PT/CV saja, pasti melamar mengisi berbagai perusahaan yang dianggap sesuai dengan bidangnya.
Saya pengguna lama dari JobStreet dari tahun 2020, jangan tanya berapa perusahaan yang saya lamar, ribuan tapi berapa yang benar-benar membalas hanya satuan itupun tidak ada kabar lanjutan.
Dan parahnya yang menghubungi banyak dari pihak scam tugasnya hanya like, share dan coment dapat cuan. Seperti yang telah saya bahas di artikel [Baca : Ciri-Ciri Penipuan Online Telegram yang Wajib Dihindari Jebakan Money Game & Ponzi Scheme].
BAB II
MODUS "FREELANCE LIKE & SUBSCRIBE" (PINTU MASUK JUDOL & LEAKING DATA)
Menyambung pengalaman pahit saya di atas: Ribuan lamaran ke perusahaan bonafid hening tanpa kabar, tapi anehnya, WhatsApp saya justru ramai oleh nomor asing yang menawarkan "Kerja Part Time Like & Subscribe".
Pertanyaannya: DARI MANA PENIPU DAPAT NOMOR SAYA?
Jawabannya mengerikan: Data kita bocor dari CV yang kita sebar di platform tersebut.
JobStreet dan platform sejenis mewajibkan kita mengunggah Resume/CV lengkap. Mereka dengan yakinnya menyuruh kita membuka data pribadi (Nama, Alamat Lengkap, No. HP, Email, Riwayat Pendidikan) agar HRD bisa melakukan cross-check.
TAPI... Mereka sadar atau tidak (atau pura-pura tidak sadar), ada SCAMMER yang juga mendapat jatah akses ke CV kita.
Bagi sindikat kriminal, CV kita itu bukan sekadar kertas lamaran.
Itu adalah DATABASE GRATIS.
Data ini sangat mahal di era teknologi. Jauh lebih mahal dari sekedar cincin permata. Dengan data itu, mereka bisa memprofiling kita: "Oh, orang ini lulusan baru, lagi butuh uang, pasti gampang dipancing."
Modus Operandi: Kamuflase Tingkat Tinggi
Para sindikat ini tahu persis jika mereka memasang iklan "DICARI ADMIN SITUS SLOT GACOR", pasti langsung diblokir. Maka, mereka menggunakan teknik CAMOUFLAGE KEYWORD (Kata Kunci Kamuflase).
Judul Loker: "Freelance Digital Marketing", "Staf Admin Data Entry", atau "Mitra E-Commerce".
Deskripsi: Kerja santai, gaji harian 50rb - 500rb, WFH/Remote.
Target: Mereka yang putus asa (Desperate) karena lamaran resminya ditolak terus.
Begitu pelamar masuk perangkap (biasanya diarahkan ke Telegram), barulah topengnya dibuka. Tugas Like Youtube/TikTok di awal hanyalah Grooming (Pendekatan Psikologis). Mereka memberi recehan 10rb-20rb agar kita percaya "Oh, ini beneran membayar".
Ujung-ujungnya? Ada 3 Jurang Kehancuran:
Tugas Deposit (Ponzi/Scam): Disuruh transfer uang dulu (Prepaid Task) biar cair komisi besar. Saat uang masuk jutaan, mereka kabur/blokir.
Admin Judol: Jika tidak punya uang deposit, kita ditawari opsi "gratis" tapi haram: Jadi admin yang mengelola akun member situs judi.
Tugas Referal (Lingkaran Setan): Ini yang paling jahat. Mereka menjadikan kita "Kaki Tangan" untuk mengajak saudara, teman, dan kerabat bergabung. Kita dipaksa memangsa orang terdekat kita sendiri.
Kenapa Platform Diam Saja?
Platform Raksasa Global itu tidak ada waktu untuk mengecek satu per satu perusahaan yang mendaftar. Bagi mereka, verifikasi door-to-door itu tidak efisien dan mahal. Mereka platform Global, merasa tidak ada urusan dengan verifikasi fisik di lapangan.
Akibatnya? Kitalah yang jadi korban kemalasan sistem mereka.
BAB III
TEKNIK AUDIT MANDIRI (JANGAN PERCAYA "CENTANG BIRU")
Setelah mengetahui bahwa sistem verifikasi Job Portal itu rapuh dan data kita diincar,
Apakah kita harus berhenti mencari kerja online? Tentu TIDAK.
Job Portal pada dasarnya memiliki niat baik: menghubungkan kita (pelamar) dengan perusahaan secara efisien tanpa buang waktu dan uang untuk fotocopy lamaran.
Kita hanya perlu mengubah strategi: Dari "Pelamar Lugu" menjadi "Pelamar Investigatif".
Ingat asas hukum Caveat Emptor (Teliti sebelum membeli). Di dunia loker, asasnya adalah: Teliti Sebelum Upload Data.
Berikut adalah 3 Filter Pertahanan yang wajib Anda pasang:
3.1 AUDIT FISIK (Jurus Google Street View)
Dokumen legalitas bisa dipalsukan instan lewat OSS. Tapi fisik bangunan tidak bisa bohong.
Copy alamat perusahaan di loker tersebut.
Paste di Google Maps, nyalakan mode Street View.
Analisis: Apakah itu gedung kantor? Ruko tertutup rapat? Atau malah rumah warga/toko kelontong?
Perusahaan yang mampu membayar gaji UMR pasti memiliki jejak digital fisik (Papan Nama, Gedung Layak, Ulasan Pelanggan). Jika alamatnya fiktif, SKIP.
Apakah ini berhasil 100%? Jujur saja: TIDAK.
Scammer hari ini lebih canggih dan berduit (hasil uang korban). Mereka sanggup menyewa ruko atau Virtual Office di gedung asli hanya untuk mengelabui verifikasi Google Maps. Tapi setidaknya, cara ini menyaring penipu kelas teri.
3.2 AUDIT LOGIKA (Rasio Gaji vs Beban Kerja)
Scammer selalu menyerang sisi "Serakah & Butuh" (Greed & Desperate) manusia.
Jika ada loker "Staf Admin" atau "Data Entry" gaji 5-8 Juta, WFH, lulusan SMA tanpa pengalaman, dan langsung diterima tanpa tes teknis.
VONIS: ITU 100% JEBAKAN.
Ingat: Tidak ada perusahaan yang membuang uang untuk pekerjaan yang tidak butuh skill spesifik. Too good to be true is a SCAM.
3.3 PROTEKSI DATA (Strategi "Burner Number")
Jangan gunakan "Kartu Utama" Anda di medan perang yang tidak aman.
Siapkan 1 Nomor WhatsApp khusus dan 1 Email khusus yang terpisah dari akun perbankan/privasi utama. Gunakan HANYA untuk melamar kerja.
Jika nomor tersebut tiba-tiba dapat spam judi atau tawaran like-subscribe, Anda aman. Data utama Anda bersih, dan Anda tahu ada kebocoran dari sana.
Apakah Aman? Tidak Juga.
Kita dibatasi aturan registrasi NIK/KK (maksimal 3 nomor). Kita tidak bisa gonta-ganti kartu seenaknya kecuali pakai data orang lain (yang mana itu Pidana). Jadi, gunakan 1 nomor khusus itu selamanya untuk urusan publik, dan jaga nomor utama tetap privat.
BAB IV
KESIMPULAN
REALITA PAHIT "LOKER BUANGAN"
Sebagai penutup, saya ingin mengajak Anda melihat realita rekrutmen yang jarang dibicarakan.
Kenapa mencari kerja di Job Portal terasa sangat sulit dan sering tidak masuk akal?
Sadarilah bahwa Perusahaan sejatinya lebih suka merekrut secara INTERNAL (Keluarga karyawan, kerabat, atau rekomendasi teman). Itu lebih murah, cepat, dan terpercaya (Trust).
Lalu, apa yang masuk ke Loker Online?
Posisi Sulit/Spesifik: Yang tidak bisa diisi oleh "Orang Dalem" karena butuh skill tinggi.
Loker "Buangan": Posisi dengan turnover tinggi (keluar-masuk cepat) atau gaji kecil yang orang internal pun tidak mau.
Loker Palsu/Scam: Yang memanfaatkan keramaian pasar untuk mencari mangsa.
Itulah kenapa kita sering melihat ruko atau PT tiba-tiba berdiri lengkap dengan karyawan, padahal tidak pernah pasang iklan di internet. Karena mereka merekrut lewat jalur "Bawah Tanah" (Offline).
Intinya: Loker Online seringkali adalah "Residu" atau sisa dari proses rekrutmen offline yang tidak terpenuhi.
Jadi, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri jika lamaran online Anda sering ditolak. Medan perangnya memang sekeras itu. Tetap waspada, tetap pakai logika, dan jangan biarkan keputusasaan membuat Anda masuk ke perangkap buaya darat.
π¨π¨DISCLAIMER & SANGGAHAN HUKUM:
Tujuan Edukasi: Artikel ini ditulis semata-mata untuk tujuan edukasi, literasi digital, dan perlindungan masyarakat (tindakan preventif) terhadap maraknya kejahatan siber. Tidak ada niat sedikit pun untuk menjatuhkan, mencemarkan, atau merusak reputasi pihak/platform tertentu.
Penyebutan Merek: Penyebutan nama platform (JobStreet, Glints, LinkedIn, dll) dalam tulisan ini adalah sebagai Studi Kasus (Case Study) dan Sampel dari fenomena yang terjadi di lapangan. Kritik ditujukan pada Celah Sistem yang dimanfaatkan oleh pihak ketiga (oknum scammer), bukan menuduh Platform sebagai pelaku kejahatan.
Dasar Analisis: Tulisan ini didasarkan pada riset empiris, pengalaman pribadi penulis sebagai pengguna, dan analisis sistem keamanan siber.
Imbauan: Penulis menghimbau pihak penyedia platform untuk menjadikan tulisan ini sebagai masukan konstruktif (Kritik Membangun) demi peningkatan keamanan pengguna.
Pembebasan Tanggung Jawab: Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian materiil maupun immateriil yang dialami pembaca akibat interaksi dengan pihak ketiga di platform manapun. Pembaca diharapkan menggunakan kebijaksanaan (user discretion) sendiri.

Post a Comment