[AUDIT META] Algoritma Bias: Kenapa Iklan Ilegal Lolos Terus?
π§ Males Baca? Biarkan Asisten Kami yang membacakan:
Oleh: TRI LUKMAN HAKIM S.H., – Analis Sistem & Hukum
Anomali Berbahaya di Kotak Masuk Digital
Setelah membedah inefisiensi anggaran pada targeting LinkedIn dan anomali sanksi kolektif pada moderasi Google [Baca: IRONI Algoritma Google yang mabuk dengan membanned situs anti scam], kita kini berhadapan dengan kegagalan sistem paling berbahaya: lolosnya iklan Judi Online di platform Meta (Facebook dan Instagram).
Pernahkah kalian lagi scroll Facebook kemudian melihat iklan Ilegal?
Bagaimana tanggapan dan perasaan kalian?
Senang, marah atau kecewa?
Berhubung kita bukan ahli per Gacoran tentu kita marah dan kecewa, kenapa ada iklan seperti itu yang lolos filter dari kebijakan algoritma meta.
Ini bukan tentang perasaan, "ah gapapa kalo ga suka kan bisa di skip" tapi ini tentang kebijakan dan tanggung jawab moral, iklan itu tidak muncul hanya pada beranda saya, mereka menargetkan ribuaan orang.
Iklan itu bermain pada psikologi, semakin sering melihat sesuatu (iklan) akan sangat besar kemungkinan untuk penasaran, akibatnya mencoba, setelah mencoba akan ketagihan.
Suatu yang besar dimulai dari hal kecil yang selama ini kita anggap remeh.
Iklan ini bukan sekadar spam yang menyebalkan (Baca: Iklan Bersponsor InMail nyasar di LinkedIn); ini adalah saluran aktif bagi aktivitas kriminal yang dilegalkan oleh fitur iklan berbayar Meta.
Bukti visual transaksi hingga jutaan Rupiah di domain iklan ilegal, lengkap dengan tombol "Isi Saldo," bertebaran di Beranda yang seharusnya menjadi ruang sosial yang aman.
Jika kegagalan LinkedIn melukai kantong pengiklan, dan kegagalan Google melukai kredibilitas penerbit, kegagalan Meta langsung melukai kehidupan risiko finansial dan hukum penggunanya.
Artikel ini adalah audit sistematis terhadap Meta, menuntut pertanggungjawaban mengapa sebuah perusahaan triliunan Dolar gagal memprioritaskan keselamatan hukum dan etika di atas revenue iklan yang dinodai.
DISCLAIMER
Artikel ini BUKAN untuk mempromosikan bentuk aktivitas ilegal apapun. Artikel ini murni bertujuan untuk audit forensik dalam kacamata pengguna terhadap platform. Bukan untuk menjatuhkan nama baik tapi untuk mengingatkan jika ada kesalahan dalam algoritmanya.
HAKIM, T. (2025). Audit Forensik terhadap Paradoks Kebijakan dan Kegagalan Sistemik Big Tech: Studi Kasus Google, LinkedIn, dan Meta. Zenodo.
https://doi.org/10.5281/zenodo.18055201
MOTIF: Menelusuri Mens Rea (Niat) di Balik "Kelalaian yang Menguntungkan"
Setelah kita menetapkan fakta di Pendahuluan bahwa anomali berbahaya ini nyata, masif, dan destruktif, timbul satu pertanyaan fundamental yang harus dijawab oleh audit ini: Mengapa?
Mengapa perusahaan teknologi paling canggih di muka bumi, yang mampu mengenali wajah Anda di foto buram sepuluh tahun lalu, tiba-tiba menjadi "buta huruf" ketika dihadapkan pada teks raksasa bertuliskan "GACOR" atau "DEPOSIT PULSA".
Sebagai Analis Sistem dan Hukum, saya menolak narasi naif bahwa ini sekadar "bug" atau "glitch" algoritma yang tak disengaja. Dalam skala industri sebesar Meta, sebuah kesalahan yang terjadi berulang kali, secara konsisten, dan menghasilkan pendapatan masif, bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah kebijakan.
Bab ini akan membedah mens rea (niat korporasi) di balik fenomena ini. Kita akan membuktikan bahwa kegagalan ini bukanlah ketidakmampuan teknis, melainkan sebuah "Kelalaian yang Menguntungkan" (Profitable Negligence).
2.1 Bukan Bug, Tapi Fitur Bisnis
Narasi standar yang selalu dikeluarkan oleh juru bicara Big Tech ketika tertangkap basah adalah:
"Sistem kami memproses miliaran konten sehari, wajar ada yang lolos. Kami akan perbaiki."
Ini adalah kebohongan publik. Itu jawaban klasik untuk menenangkan regulator.
Mari gunakan logika sistem dasar. Meta memiliki teknologi AI tercanggih di dunia—DeepText untuk memahami bahasa, DeepFace untuk pengenalan gambar. Mereka bisa mendeteksi ketelanjangan artistik, atau bahkan sekadar emoji buah persik yang dianggap sugestif, dalam hitungan detik lalu memblokirnya.
Namun, ketika sebuah gambar mengandung teks kapital besar yang secara eksplisit mempromosikan kata kunci ilegal (WITHDRAWAL, MAJONG, GACOR), AI mereka mendadak lumpuh total.
Sebagai analis, saya menyimpulkan: Ini bukan karena AI mereka bodoh. Ini karena parameter filternya sengaja dilonggarkan untuk kategori tertentu. "Kebutaan" ini dikonfigurasi secara sengaja.
Jika mereka ingin menghentikannya, mereka bisa melakukannya besok pagi dengan satu baris kode. Fakta bahwa mereka tidak melakukannya membuktikan bahwa mereka memilih untuk tidak melakukannya.
2.2 "Cuan" di Atas Segalanya (The Profit Motive)
Mari ikuti jejak uangnya (follow the money). Dalam ekosistem iklan digital yang kompetitif, Meta tampaknya menganut prinsip Pecunia non olet—uang tidak berbau. Mereka tidak peduli dari mana uang itu berasal, selama itu masuk ke kas mereka.
Industri finansial ilegal adalah industri dengan perputaran uang tunai yang luar biasa besar. Para bandar adalah apa yang disebut dalam dunia marketing sebagai "Paus" (Whales).
- Kekuatan Belanja Tinggi: Bandar memiliki anggaran pemasaran yang nyaris tak terbatas dibandingkan UMKM legal yang berjualan keripik pisang atau jasa desain.
- Lelang Iklan yang Timpang: Sistem iklan Meta bekerja berdasarkan lelang (bidding). Siapa yang berani bayar Cost Per Click (CPC) atau Cost Per Mille (CPM) tertinggi, dialah yang menang dan tampil di beranda Anda. Mereka selalu menang lelang melawan pengiklan etis karena mereka tahu satu korban kecanduan akan menghasilkan keuntungan ribuan kali lipat dari biaya iklan.
Meta secara sadar menikmati aliran dana segar akibat ketimpangan lelang ini. Setiap kali iklan tampil dan diklik, Meta mendapatkan potongan langsung dari modal kejahatan tersebut.
2.3 Berlindung di Balik "Black Box"
Motif selanjutnya adalah legal dan politis. Mengapa bersikeras menggunakan algoritma "Black Box" yang rumit daripada moderasi manusia yang jelas?
Sebagai Analis Hukum, saya melihat ini sebagai strategi pertahanan diri korporasi untuk menciptakan penyangkalan yang masuk akal (plausible deniability).
Jika mereka menggunakan moderator manusia dan moderator itu terbukti meloloskan iklan judi, maka individu dan manajernya bisa dituntut secara pidana karena kesengajaan.
Namun, jika yang meloloskan adalah "algoritma AI yang kompleks, otonom, dan terus belajar sendiri", eksekutif Meta bisa mencuci tangan dan berkata di depan regulator atau pengadilan:
"Maaf, bukan kami yang mau, tapi robotnya yang salah belajar."
"Black Box" adalah tameng hukum yang sempurna. Ia dirancang cukup buram agar pihak luar tidak bisa membuktikan niat jahat secara langsung, namun cukup efisien untuk terus memompa keuntungan dari sumber-sumber kotor.
2.4 Penjaga yang Main Aman (The Complicit Guard)
Meta mungkin akan menyangkal tuduhan ini dengan argumen teknis bernama Cloaking. Yaitu,
Teknik di mana saat "robot moderator" Meta datang memeriksa iklan sebelum tayang, situs tujuan menyamar menjadi blog berita atau toko online yang aman. Namun, saat "manusia pengguna" yang mengklik, situs itu berubah wujud menjadi kasino online.
Mereka berargumen: "Kami ditipu oleh bandar yang licik."
Pertanyaannya:
Apakah sistem AI triliunan dolar bisa ditipu terus-menerus oleh trik sulap murahan yang sudah ada sejak 2010 ini?
Apakah mengganti kata kunci dari GACOR menjadi G4C0R benar-benar bisa membodohi algoritma yang bisa mengenali wajah?
Analogi
Ini seperti seorang penjaga keamanan toko yang diam saja melihat pencuri mengambil produk di depan matanya. Jika ditanya bosnya, dia menjawab: "Saya tidak tahu, pelakunya pakai topi jadi saya tidak kenal."
Ketika pelakunya kabur dan membawa hasil curian, si penjaga masih sibuk berpura-pura mencari di layar monitor.
Apa kesimpulan logisnya?
Penjaga itu tidak kompeten, atau penjaga itu "ada main" dengan pelaku?
Dalam kasus Meta, mereka terlalu pintar untuk disebut tidak kompeten.
π¨Kesimpulan Cepat
Motifnya jelas: Uang dan Impunitas. Meta tidak memperbaiki masalah ini bukan karena mereka tidak bisa, tetapi karena memperbaiki masalah ini berarti mematikan salah satu keran pendapatan terbesar mereka yang paling loyal.
Dalam kacamata hukum dan sistem, pembiaran sistematis yang disengaja demi keuntungan ini sudah memenuhi unsur fundamental dari "kelalaian yang menguntungkan" (profitable negligence).
adalah bukti mutlak bahwa sistem moderasi dan verifikasi platform besar telah rusak, dan bahaya bagi pengguna meningkat secara eksponensial.
BUKTI: Audit Forensik Kebutaan Algoritma yang Disengaja
Tuduhan pada Bab II bahwa kegagalan ini adalah "kelalaian yang menguntungkan" bukanlah sekadar retorika. Tuduhan ini bukan hanya bualan semata melainkan didasarkan pada bukti empiris yang masif dan tak terbantahkan.
Di bab ini, kita tidak akan berbicara dalam ranah teori. Kita akan membedah "mayat digital" dari iklan-iklan yang berhasil menembus pertahanan Meta. Setiap gambar di bawah ini adalah bukti forensik dari kegagalan sistem yang sistematis.
Disclaimer :
Hasil tangkapan layar (screenshot) ini semata-mata untuk bukti dalam pembedahan artikel bukan untuk mengiklankan situs atau mempromosikannya, nama-nama link sudah kami sensor untuk menjaga kode etik penerbitan.
Ini bukan anomali. Ini adalah pola.
3.1 Kegagalan OCR: Ketika AI "Tiba-Tiba Buta Huruf"
Salah satu teknologi kebanggaan Meta adalah Optical Character Recognition (OCR), yang mampu membaca teks dalam gambar dalam hitungan milidetik.
Namun, perhatikan bukti di bawah ini. AI yang mampu mengenali merek dagang kecil di sudut foto, mendadak buta total di hadapan teks raksasa yang secara eksplisit mempromosikan.
- Bukti 1: "AKUN BARU 100% MELEDAK" Lihat gambar di atas. Teks berwarna emas dan merah berukuran besar secara terang-terangan menjanjikan "AKUN BARU 100% MELEDAK" di bawah logo dengan latar belakang naga dan koin emas. Tidak ada ambiguitas sedikitpun. Seorang anak SD pun tahu ini adalah promosi Kakek.
- Bagaimana algoritma AI senilai triliunan dolar bisa melewatkan ini?
- Bukti 2: "simbol simbolnya majoong 1 disini keluar terusss" Lihat gambar di atas. Iklan ini tidak hanya menampilkan teks "simbol simbolnya majoong 1 disini keluar terusss", tetapi juga tangkapan layar permainan Mahjong Ways yang sedang aktif dengan tulisan "MENANG 24.100,00" dan "FREE SPIN". Ini adalah representasi visual langsung dari aktivitas perjudian.
Kegagalan mendeteksi teks dan visual ini bukanlah "bug". Ini adalah fitur yang dimatikan. Parameter deteksi untuk kata kunci ini jelas telah dilonggarkan ke titik non-eksisten.
3.2 Fasilitasi Transaksi Finansial Ilegal
Bukti yang lebih memberatkan adalah fasilitasi transaksi. Iklan-iklan ini bukan sekadar promosi; mereka adalah gerbang (gateway) aktif menuju transaksi keuangan ilegal di Indonesia.
Dalam kacamata hukum, menyediakan sarana untuk melakukan kejahatan adalah bentuk turut serta (medepleger).
- Bukti 3,4 dan 5: Transaksi "Isi Saldo" dan "Tarik Saldo" Perhatikan gambar-gambar di atas. Setiap iklan menampilkan antarmuka aplikasi judi yang jelas, lengkap dengan tombol dan riwayat transaksi.
- Gambar 3 : Menunjukkan "Tarik Saldo IDR 10.500.000,00" dan "Isi Saldo IDR 160.000,00" pada tahun 2025.
- Gambar 4 : Menunjukkan "Withdrawal IDR 5,400,000.00" dan "Isi Saldo IDR 80,123.00" pada tahun 2024.
- Gambar 5 : Menunjukkan riwayat "Tarik Saldo IDR 6.500.000,00" dan "Isi Saldo IDR 195.000,00" pada tahun 2025.
Meta tidak hanya menayangkan iklan; mereka menampilkan bukti transaksi keuangan ilegal sebagai materi promosi yang sah. Dengan meloloskan iklan ini, Meta secara efektif berkata kepada jutaan penggunanya: "Lihat, transaksi ini berhasil. Silakan lakukan."
3.3 Kegagalan Mendeteksi Cloaking yang Primitif
Argumen Meta bahwa mereka ditipu oleh teknik cloaking (penyelubungan) adalah penghinaan terhadap intelijen publik.
Cloaking adalah teknik kuno. Sistem Quality Assurance (QA) modern seharusnya memiliki protokol standar untuk memverifikasi landing page dari berbagai IP dan perangkat.
- Bukti Call to Action "Daftar" Gambar di atas menunjukkan iklan-iklan tersebut memiliki tombol Call to Action (CTA) yang jelas bertuliskan "Daftar". Apakah Meta ingin kita percaya bahwa sistem mereka tidak mampu menelusuri ke mana tombol "Daftar" pada iklan bergambar naga dan koin emas ini berasal?
Fakta bahwa tombol "Daftar" ini mengarah ke situs judi aktif membuktikan bahwa sistem verifikasi landing page Meta—jika memang ada—sama sekali tidak berfungsi untuk kategori pengiklan ini.
π¨Kesimpulan Cepat
Bukti-bukti forensik di atas—mulai dari kebutaan OCR terhadap teks raksasa hingga fasilitasi transaksi ilegal—menghancurkan segala bentuk penyangkalan yang masuk akal (plausible deniability).
Ini bukan kasus satu atau dua iklan yang lolos dari celah sempit. Ini adalah banjir bandang yang dibiarkan masuk melalui pintu gerbang yang dibuka lebar-lebar.
Bukti ini mengonfirmasi bahwa di dalam "Black Box" algoritma Meta, keselamatan pengguna telah dikorbankan demi keuntungan dari mereka.
PUTUSAN: Vonis Audit Sistem & Hukum terhadap "Black Box" Meta
Berdasarkan pemeriksaan forensik terhadap kronologi kejadian (Bab I), motif bisnis dan hukum yang mendasarinya (Bab II), serta bukti-bukti empiris yang tak terbantahkan (Bab III), audit ini kini sampai pada tahap pengambilan keputusan.
Putusan Final and Binding : Algoritma Meta BERSALAH
Mereka telah lalai dalam menjaga ekosistem kebersihan dari lingkungan yang berbahaya bagi risiko finansial pengguna, melakukan pembiaran sistematis, tidak ada tindak lanjut pembersihan atau pemblokiran akun. Dan menjaga nama baik platform.
Berikut adalah vonis audit yang dijatuhkan terhadap Meta:
4.1 VONIS SISTEM: Kegagalan Total Kontrol Kualitas (Total System Failure)
Dari perspektif analisis sistem, platform iklan Meta telah gagal memenuhi standar paling dasar dari sebuah sistem yang aman dan andal.
- Kegagalan Filter Konten Primer: Sistem OCR (Optical Character Recognition) dan pengenalan gambar, yang seharusnya menjadi garis pertahanan pertama, terbukti impoten menghadapi konten visual yang secara eksplisit melanggar kebijakan. Kegagalan ini terlalu konsisten untuk dianggap sebagai anomali statistik.
- Kegagalan Verifikasi Destinasi (Landing Page): Sistem verifikasi URL tujuan terbukti tidak berfungsi. Protokol keamanan yang seharusnya mampu mendeteksi teknik cloaking primitif sama sekali tidak berjalan. Meta membiarkan sistemnya menjadi jalan tol bebas hambatan menuju situs-situs ilegal.
- Pernyataan Sistem: Sistem iklan Meta saat ini beroperasi dalam mode "prioritas pendapatan" (revenue-first), di mana protokol keamanan dan kepatuhan (compliance) telah dilumpuhkan atau diturunkan prioritasnya ke tingkat yang membahayakan.
4.2 VONIS HUKUM: Pengabaian Kewajiban yang Disengaja (Willful Negligence of Duty)
Dari perspektif hukum, kegagalan ini melampaui batas kelalaian biasa. Ini adalah pengabaian kewajiban yang disengaja.
- Pelanggaran Prinsip Duty of Care: Sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang beroperasi di Indonesia, Meta memiliki kewajiban hukum dan moral untuk menerapkan prinsip kehati-hatian (duty of care) untuk memastikan platformnya tidak digunakan untuk aktivitas yang melanggar hukum positif negara. Dengan membiarkan iklan judi merajalela, Meta telah melanggar prinsip ini secara fundamental.
- Peran Serta dalam Tindak Pidana (Complicity): Dengan menerima pembayaran dari bandar judi dan secara aktif mendistribusikan materi promosi mereka—termasuk bukti transaksi ilegal—Meta tidak lagi sekadar menjadi penyedia platform netral. Mereka telah bertindak sebagai fasilitator aktif. Dalam doktrin hukum pidana, tindakan menyediakan sarana untuk melakukan kejahatan dapat dikategorikan sebagai pembantuan (medeplichtigheid) atau turut serta (medepleger).
- Pernyataan Hukum: Tindakan Meta memenuhi unsur mens rea (niat) dalam bentuk kesengajaan bersyarat (dolus eventualis), di mana mereka sadar akan risiko tinggi platformnya digunakan untuk kejahatan, namun memilih untuk membiarkannya demi keuntungan finansial.
Kesimpulan Cepat
Vonisnya jelas: Meta bersalah atas kegagalan sistemik dan pengabaian hukum yang disengaja. "Black Box" algoritma mereka telah terbukti menjadi alat untuk mencuci uang iklan dari sumber ilegal menjadi pendapatan korporasi yang sah, dengan mengorbankan jutaan pengguna di Indonesia yang terpapar risiko finansial dan sosial. Ini bukanlah inovasi teknologi; ini adalah eksploitasi yang diindustrialisasi.
Penutup Gugatan: Panggilan Perang Melawan Algoritma Cuan
Sampailah kita pada akhir audit sistematis ini. Fakta telah dibeberkan, motif telah dibongkar, dan bukti telah dijejerkan. Vonis pun telah dijatuhkan: Meta Bersalah.
Namun, artikel ini bukan sekadar tumpukan analisis di atas kertas digital. Ini adalah sebuah alarm tanda bahaya.
Apa yang kita hadapi bukanlah sekadar gangguan iklan spam. Kita sedang berhadapan dengan krisis kesehatan publik digital. Sebuah raksasa teknologi asing sedang memperkaya dirinya sendiri dengan menjadi pintu gerbang kehancuran finansial bagi jutaan rakyat Indonesia. Mereka menjual akses ke psikologi kita, kepada penawar tertinggi—bahkan jika penawar itu adalah sindikat kriminal.
Kegagalan "Polisi Siber" dan Panggilan Tugas Kita
Realitas pahitnya adalah: Kita sendirian.
Regulator dan penegak hukum kita masih sibuk mengejar ekor masalah dengan memblokir situs-situs ilegal di hilir, yang akan muncul kembali dalam hitungan menit dengan nama domain baru. Sementara itu, keran utamanya—platform iklan Meta—dibiarkan terbuka lebar, membanjiri beranda kita tanpa henti.
Polisi bersifat pasif. Mereka menunggu laporan menumpuk di meja sebelum bertindak. Sistem moderasi Meta bersifat pasif-agresif; mereka tahu ada masalah, tapi memilih menutup mata demi keuntungan.
Maka, tugas menjaga kewarasan dan keselamatan ruang digital kita jatuh kembali ke tangan kita sendiri: masyarakat pengguna.
Gugatan Ini Adalah Awal
Artikel ini adalah sebuah gugatan publik. Tapi gugatan ini tidak akan berarti apa-apa jika berhenti di sini.
Kuncipro hadir bukan hanya untuk menganalisis, tapi untuk melawan. Kami berdiri sebagai benteng pengguna yang menolak media sosial kita diubah menjadi ladang ranjau kriminalitas ITE.
Kepada Meta: Kami melihat permainan Anda. Kami tidak akan diam saat Anda menukar keselamatan kami dengan cuan judi.
Kepada Masyarakat: Anda bukan korban pasif. Anda adalah pelapor, pengawas, dan hakim sesungguhnya.
Jangan hanya mengeluh saat melihat iklan judi.
Laporkan.
Viralkan.
Tuntut pertanggungjawaban.
Banjiri sistem pelaporan mereka sampai mereka tidak bisa lagi mengabaikan kita.
Ini adalah perang panjang melawan keserakahan algoritma. Dan perang ini dimulai dengan kesadaran kita untuk tidak lagi memaklumi kejahatan hanya karena ia dibungkus dalam platform berteknologi tinggi.
Bijaklah dalam bersosial. Kritis lah dalam berdigital.






Post a Comment