-->

[SATIRE] Tutorial Lengkap PENCITRAAN SAAT BENCANA ALAM: Sosiologi Hukum

Desember 07, 2025

(Disclaimer: Artikel ini mengandung sarkasme dosis tinggi. Jika Anda tersinggung, mungkin Anda pelakunya.)

BAB I

Pendahuluan: Bencana Adalah Panggung, Bukan Tragedi

Akhir-akhir ini musibah bencana alam di pelosok tanah air kian memprihatinkan, banjir, tanah longsor menutup semua akses kehidupan.

Bagi manusia normal, bencana alam adalah tragedi kemanusiaan. Bagi korban bencana alam adalah musibah. Tapi bagi Politisi Karbitan, Influencer Haus Like, content creator butuh view dan Pejabat Minim Prestasi, bencana adalah Momen Emas (Golden Moment).

Kenapa? 

Karena tidak ada background foto yang lebih dramatis daripada reruntuhan rumah warga. Tidak ada angle yang menarik disaat video berjalan menyusuri genangan banjir. Tidak ada props (alat peraga) yang lebih menyentuh daripada wajah anak kecil yang menangis.

Pernahkah kalian melihat video sosmed tentang orang yang terjebak dalam derasnya banjir?

1% orang yang berusaha menolong

Tapi 99% orang sibuk mendokumentasikan momen itu untuk Video atau foto.

Sangat miris ketika nyawa tidak lebih berharga dari sebuah viralitas. 

Lupakan empati. Empati tidak menaikkan elektabilitas. Empati tidak menambah followers. Empati tidak menambah view.

Sisi kemanusian kita hilang, bukan karena dicuri tapi digantikan oleh algoritma.

Di artikel ini, saya akan mengajarkan Anda (para pencari panggung) bagaimana cara memeras air mata korban menjadi aset digital yang menguntungkan.

BAB II

Tahap Persiapan: Logistik Nomor Dua, Kamera Nomor Satu

Sebelum tim Anda menyalakan mesin mobil menuju lokasi bencana, pastikan mindset Anda sudah "benar". Jangan sibuk memikirkan "Berapa dus mie instan yang harus dibawa?", itu pemikiran amatir.

Pikirkanlah: "Kamera apa yang resolusinya paling tajam untuk menangkap tetesan air mata?"

Jangan langsung berangkat diam-diam, itu cara pemula. Masyarakat tidak akan tahu Anda datang.

Lakukanlah: Update Status di media sosial kalian, dan buat video keberangkatan dengan narasi dramatis:

 "Hai Guys, hari ini saya akan ke lokasi bencana alam. Kita sudah persiapkan logistik lengkap, tentunya dengan stiker wajah saya yang tertempel jelas di setiap barang."


Berikut daftar perlengkapan wajib "Pejuang Konten":

1. Tim Dokumentasi Wajib Lengkap

Bantuan logistik bisa habis dimakan, tapi Foto dan Video adalah Aset Abadi. Bawalah fotografer, videografer, dan kalau perlu drone untuk shot sinematik dari udara.

Ingat rumus matematika medsos:

Bantuan 1 Juta + Biaya Dokumentasi 5 Juta = Viralitas 1 Miliar.

2. Kostum "Pencitraan" (Wajib Branding)

Jangan datang pakai baju kaos oblong polos. Anda akan dikira warga biasa atau relawan murni. Rugi dong?

  • Pakailah Rompi Partai, Rompi Anti Peluru (biar terlihat heroik), Kaos Komunitas, atau Seragam Dinas dengan logo sebesar mungkin di dada dan punggung.

  • Pastikan wajah Anda tetap glowing dan bersih (jangan lupa mampir ke salon kecantikan dulu). Wajah glowing Anda harus kontras dengan latar belakang lumpur dan warga yang kucel. 

Ini menciptakan efek visual "Sang Penyelamat Turun dari Langit".

3. Spanduk Adalah Koentji

Sebelum tenda pengungsian berdiri tegak, pastikan Baliho/Spanduk wajah Anda berdiri lebih dulu.

Tulisannya: "TURUT BERDUKA CITA".

Tapi fotonya: Wajah Anda sedang tersenyum manis (foto sisa kampanye tahun lalu) sambil mengepal tangan.

Logika Sosiologisnya: Korban butuh nasi, tapi Anda memberi mereka spanduk wajah Anda. Luar biasa tidak berguna.

4. Kendaraan Wajib Elegan (The VIP Arrival)

Jangan tiba di sana pakai sepeda motor atau mobil biasa, Anda akan dianggap donatur receh. Cobalah sewa Helikopter.

Bayangkan jika Anda tiba menggunakan helikopter, status Anda sudah Next Level. Angin baling-balingnya mungkin akan menerbangkan tenda warga, tapi itu tidak penting.

Biarkan mereka teriak histeris dari bawah. Lemparkan logistik itu dari atas. Biarkan rakyat berebut di bawah layaknya adegan film aksi. Ini adalah konten mahal yang tidak bisa didapat oleh relawan biasa.


BAB III

Eksekusi di Lapangan: The Art of "Tunjuk-Tunjuk"

Sampai di lokasi, jangan konyol dengan langsung ikut nyangkul lumpur, angkat puing atau turun digenangan banjir. Itu tugas relawan rendahan. Tugas Anda adalah Membangun Narasi. Ingat kalian itu publik figure bukan rakyat jelata

1. Jurus "Telunjuk Sakti"

Cari spot yang ada alat berat atau sungai meluap. Berdirilah di sana, pasang wajah serius, lalu acungkan telunjuk Anda ke arah antah berantah.

Seolah-olah Anda sedang memberi instruksi strategis maha penting.

 Padahal aslinya cuma bilang ke fotografer: "Eh, tolong ambil angle dari sebelah sana ya, biar perut buncit saya gak kelihatan."

2. Teknik "Peluk Korban" (Durasi 5 Detik)

Cari ibu-ibu atau anak kecil yang sedang menangis histeris. Dekati, peluk erat, pasang wajah sedih, Cekrek!

Setelah dapat foto yang Instagrammable, lepaskan pelukan dan tinggalkan. Jangan tanya mereka butuh apa, nanti malah minta duit beneran. Yang penting stok konten aman.

3. Memacetkan Jalur Evakuasi (The VIP Lane)

Pastikan iring-iringan mobil mewah Anda memblokir jalan sempit yang seharusnya dipakai ambulans atau truk logistik. Biarkan relawan minggir. Anda adalah VIP. Nyawa korban bisa menunggu sesi pemotretan Anda selesai.

4. Cari spot tak terduga

Jangan diam saja, cari dan perhatikan sekitar karena di daerah bencana sesuatu akan terjadi, entah itu banjir atau longsor susulan.

Disaat itu terjadi kalian sudah siap untuk dapat hasil yang maksimal, jangan ikut bantu dulu pastikan fotograver menangkap momen kalian lari.

Kesimpulan Cepat:

Jangan hiraukan nyinyiran orang jika kalian datang ke lokasi dengan tutorial yang saya berikan, nyinyiran, sindiran dan gosip itu adalah kayu bakar elektabilitas dan kepopuleran kalian.

Semakin banyak nama disebut di media sosial, algotitma akan bekerja untuk anda, tinggal duduk manis cuan ngalit terus.

BAB IV

Pasca Produksi: Menggoreng Kesedihan di Atas Algoritma

Foto sudah dapat, Video sudah readi saatnya meracik bumbu caption, dan jangan lupa editing lagi biar lebih kuat. Di sinilah kemampuan copywriting air mata buaya diuji.

1. Caption Puitis ala ChatGPT

Jangan tulis "Saya nyumbang mie". Itu sombong.

Jika Kalian Politisi

Tulislah: "Hati saya teriris... Retak rasanya dada ini melihat senyum adik kecil yang kehilangan rumahnya. Negara Hadir! Kami Peduli!"

Jangan lupa hashtag nama partai, nama caleg, atau personal branding Anda.

Jika kalian influencer/content creator

Tulislah: "Bencana alam memang memisahkan kita dari tempat tinggal, tapi tidak bisa memisahkan kita sebagai bangsa Indonesia. Kami Hadir untuk kalian.

2. Stiker di Bungkus Nasi (Product Placement)

Jika Anda terpaksa memberi nasi bungkus, atau air mineral pastikan ada stiker wajah Anda tertempel di styrofoam-nya dan ganti kemasan air itu dengan wajah manis kalian.

Biarkan korban menatap wajah Anda saat mereka makan menahan lapar. Ini adalah strategi marketing bawah sadar yang sangat efektif (dan menjijikkan).

πŸ’‘ PRO TIP EDITOR:

Jangan upload video mentahan (raw). Masukkan lagu latar instrumen piano sedih atau lagu "Gugur Bunga". Gunakan filter sedikit gelap (gloomy) biar suasana terlihat lebih dramatis. Ini akan memancing like, share dan komen dari netizen yang melankolis.

BAB V

Penutup: Hentikan Wisata Bencana Ini!

(Kembali ke Mode Sosiologi Hukum)

Cukup. Hentikan kegilaan ini.

Sebagai pengamat sosial, saya melihat pergeseran nilai yang mengerikan. Bencana bukan studio foto. Bukan juga tempat syuting. 

Korban bukan properti kampanye dan juga objek konten. Kedatangan Anda yang hanya untuk "setor muka" seringkali justru MEMBEBANI posko darurat.

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya

1. Politisi

2. Artis/Influencer/Content Creator

Mereka memang dari latar belakag yang berbeda tapi tujuan nya 1 yaitu viralitas. Sikap ini muncul karena nilai ekonomi yang menjanjikan.

Apa sebabnya? Nilai ekonomis

Apa akibatnya? Sentimen masyarakat

Dan jika pola di atas digabung maka menjadi Viralitas.

Bukankah sudah cukup kegilaan ini?

Anda menghabiskan jatah air bersih, memacetkan jalan, dan merepotkan relawan yang harus melayani ego Anda, padahal mereka harusnya melayani korban.

Jika ingin membantu:

Transfer Dananya / Kirim Logistiknya.

Diam di Rumah. (Ini bantuan terbaik agar tidak macet).

Atau Datang Tanpa Kamera, gulung celana, dan angkat sekop.

Jika tidak bisa melakukan ketiganya, setidaknya miliki sedikit rasa malu untuk tidak menari di atas penderitaan orang lain demi sebuah pencitraan.

 ANALISIS TERKAIT: PILAR KUNCI KUNCIPRO.COM

PILAR KRITIS SISTEM & KARIR (Pekerjaan Digital Berotoritas):

PILAR HUKUM & FINANSIAL (Kritik S.H. dan Pertahanan Diri):


 Tentang Penulis

​TRI LUKMAN HAKIM S.H., Analis Sistem dan Hukum, yang memahami stigma dan kebutuhan praktisi Freelance. Misinya adalah membongkar penipuan, dan memberikan review jujur meluruskan apa yang telah lama bengkok, dalam perspektif Hukum.

[KLIK DISINI Untuk Verifikasi Profil Serta Visi & Misi Penulis]

Komentar

Post a Comment