-->

[IRONI ALGORITMA] Ketika Konten Anti-Scam Ranking #1 Justru Diblokir Google Sendiri (Sebuah Kritik Terbuka)

Desember 05, 2025




Perang saudara algoritma google search vs youtube by kuncipro

🎧 Males Baca? Biarkan Asisten Kami yang membacakan:

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H

Pendahuluan: Paradox Kebijakan yang Menghancurkan Kualitas

Masalah teknis redirect loop (kesalahan pengalihan) yang menimpa situs saya belum kunjung menemukan titik terang, dan segala upaya perbaikan masih nihil hasil.

Saya mencoba mencari solusi teknis di kanal resmi: mengajukan pertanyaan di forum Komunitas Pusat Google Penelusuran (GSC) tentang masalah teknis ini. Saya berharap ada balasan baik dari manusia, bukan AI atau robot.

Namun, yang saya dapatkan setelah menunggu beberapa jam adalah email yang mengejutkan:



Bukti email yang dikirim moderator google



"Kami ingin menginformasikan bahwa postingan terbaru yang Anda buat di "Komunitas Pusat Google Penelusuran" kami telah dihapus karena melanggar Kebijakan "Konten yang Tidak Relevan" kami, berdasarkan peninjauan dari peninjau konten internal".

Postingan saya di-BANED.

Postingan bantuan teknis yang saya ajukan—lengkap dengan URL bermasalah—dianggap spam, konten tidak relevan, dan melanggar kebijakan komunitas.

Artikel ini adalah studi kasus nyata yang menunjukkan ketidak-sinkronan pola pikir algoritma Google. Ketika Algoritma Google Menghukum Konten Edukasi (Analisis Kegagalan Sistem Moderasi) dalam mendeteksi kata kunci, konteks tulisan, dan yang paling parah, mengabaikan kualitas konten. 

Ini adalah lanjutan dari kasus sebelumnya: bukti nyata kegagalan sistematis Google, di mana penerbit konten berkualitas tinggi dan terverifikasi—dengan latar belakang Praktisi Hukum dan Eks-Mitra Riset Pasar—dihukum dan dihapus secara permanen di seluruh platform Google.

Mengapa saya yakin situs saya bukan situs spam?

Validasi yang diberikan Google sendiri memberikan bukti konkrit bahwa situs saya aman dan tidak melanggar kebijakan. Artikel ini tidak akan mengembalikan postingan saya yang telah dihapus secara global, tetapi dengan ini saya akan menganalisis maksud dan tujuan dari pesan email penghapusan konten diforum yang dikirim oleh moderator Google.

πŸŽ“ Cara Mengutip (APA Style) TERINDEKS ZENODO

HAKIM, T. (2025). Audit Forensik terhadap Paradoks Kebijakan dan Kegagalan Sistemik Big Tech: Studi Kasus Google, LinkedIn, dan Meta. Zenodo.
https://doi.org/10.5281/zenodo.18055201

Lisensi: CC-BY 4.0 International Type: Research Article


Logika Data Google yang Kontradiktif

Kita tidak bisa menerima klaim moderator secara mentah. Untuk memahami betapa cacatnya keputusan moderator, kita harus membandingkan tuduhan "Konten yang Tidak Relevan" dengan data validasi kualitas yang diberikan Google sendiri pada situs ini.

Mereka tidak memberikan opsi banding sebagai sarana keterbukaan. Tuduhan "Konten tidak relevan" jelas-jelas gagal berpikir, sebab: 

Apakah pertanyaan saya keluar konteks dari masalah GSC? Tidak.

Apakah ada kata spam? Tidak.

2.1 Tiga Validasi Kualitas yang Dihantam

Situs ini adalah anomali yang telah lolos uji dari peninjauan ketat Google. Ini adalah pengakuan Google bahwa isi dari konten aman untuk dikonsumsi. Ibaratnya, kami sudah lolos uji BPOM dan mendapat Sertifikat HALAL, kemudian ada dinas kesehatan menyatakan situs kami melanggar ketentuan.

Sebuah kerangka berpikir yang kuat untuk memenuhi—bahkan melampaui—standar E-E-A-T (Keahlian, Pengalaman, Otoritas, Kepercayaan) telah diabaikan:

Validasi #1: Google AdSense. Lulus kurang dalam 30 hari adalah fast track yang hanya diberikan pada situs yang terbukti bebas dari konten melanggar (seperti spam murni atau ilegal) dan memiliki kualitas dasar yang baik.

Validasi #2: Google News. Indeks otomatis oleh Google News cek situs disini mengonfirmasi otoritas situs sebagai sumber informasi yang kredibel.

Validasi #3: Peringkat #1 Mesin Pencari. Artikel yang saya tautkan dalam forum (Review Toluna) menduduki Peringkat #1 di Bing (dan peringkat tinggi di Google) untuk kata kunci sensitif "Toluna penipuan."

2.2 Kegagalan Logika Moderator

Tuduhan "Konten yang Tidak Relevan" tidak hanya subjektif, tetapi cacat secara logis. Bagaimana mungkin konten yang secara aktif digunakan oleh algoritma Google untuk memberikan peringkat #1 kepada pengguna dianggap "tidak relevan" oleh peninjau internal?

Keputusan ini menunjukkan inkonsistensi data yang parah. Peninjau internal di Komunitas Bantuan telah mengabaikan bukti Kualitas dan Otoritas yang diberikan oleh sistem AdSense, Google News, dan Google Search itu sendiri.

2.3 Pembelaan Terhadap Tuduhan "SPAM" dan "Penipuan"

Tuduhan spam atau penipuan yang tersirat dari sanksi permanen YouTube dan penghapusan forum runtuh di hadapan transparansi penulis:

Identitas Penulis Terverifikasi: Penulis utama KunciPro, Elrumi (S.H.), secara transparan mencantumkan latar belakang akademis (Sarjana Hukum) yang dapat diverifikasi.

Analisis Kritis (Bukan Promosi): Artikel yang ditautkan adalah analisis kritis yang membongkar Time Scam dari sudut pandang mantan mitra riset, yang justru berfungsi sebagai perlindungan konsumen—bukan promosi penipuan.

2.4 "Civil War" Algoritma: Ketika Bot Pintar Dibungkam oleh Bot Primitif

​Ketidakadilan ini mengungkap fakta teknis yang memalukan bagi raksasa teknologi: Terjadinya ketimpangan evolusi kecerdasan buatan di internal Google.

​Kita harus mengakui fakta data:

  1. Bot Validasi (Search, News, AdSense) adalah "Bot Cerdas": Mereka telah berevolusi memahami Konteks Semantik. Mereka tahu bahwa ketika saya menulis kata "Penipuan", saya sedang melawan penipuan, bukan mempromosikannya. Itulah sebabnya konten saya diberi Peringkat #1 dan lolos AdSense.
  2. Bot Polisi (YouTube & Forum Moderation) adalah "Bot Primitif": Mereka tampaknya masih bekerja dengan logika kuno pencocokan kata kunci (keyword matching). Mereka gagal membedakan antara "Pelaku Kejahatan" dan "Peniup Peluit" (Whistleblower).

Logika yang Runtuh:

Seorang maling tidak akan berteriak "MALING!". Namun, warga yang berteriak "ADA MALING!" justru ditangkap oleh Bot Polisi karena dianggap membuat keributan (spam).

​Di sinilah letak cacat sistemnya: Mengapa penilaian Bot Polisi yang primitif (menghapus akun) memiliki kuasa lebih tinggi untuk membatalkan penilaian Bot Cerdas (yang memberi peringkat kualitas)?

​🚨Kesimpulan cepat:

Seharusnya, validasi dari AdSense dan Google News menjadi "Kekebalan Diplomatik" atau referensi utama bahwa akun ini aman. Namun, Google membiarkan sistem moderasi kuno menghancurkan reputasi yang telah divalidasi oleh sistem canggih mereka sendiri.langsung memberi karpet merah bagi penipu yang pandai memanipulasi kata-kata positif. Pemblokiran dalam forum adalah turunan dari masalah yang lebih besar.

UPDATE

2.5 Bukti Visual Kegagalan Sistem: Situs Pemerintah Jadi Bandar Judi vs Edukator yang Dibungkam

​Jika argumen di atas terdengar seperti teori semata, mari kita lihat bukti lapangan yang menunjukkan betapa rusaknya skala prioritas algoritma saat ini.

​Saya menyajikan dua data visual yang sangat kontradiktif (Ironi Keamanan):

Fakta A: "Karpet Merah" untuk Judi Online di Domain Pemerintah


Bukti kegagalan Algoritma



Lihat tangkapan layar di atas. Algoritma memberikan peringkat tinggi pada situs-situs berdomain .go.id (Pemerintah) dan .ac.id (Akademik) yang telah disusupi menjadi agen "Slot Gacor".

  • Logika Bot: Karena domain ini memiliki Otoritas Tinggi (High Authority), Membiarkan mereka mempromosikan konten ilegal (Judi Online) di halaman pertama pencarian. Bot gagal mendeteksi perubahan isi konten yang radikal.

Fakta B: Pengakuan AI Google Terhadap Kualitas Kuncipro.com

​Di sisi lain, lihat bagaimana AI canggih Google mendefinisikan situs saya.

  • Analisis AI: Secara eksplisit mengakui bahwa Kuncipro.com adalah platform yang "menyediakan analisis mendalam", membahas "aspek hukum", dan memberikan strategi untuk "menghindari penipuan finansial".

Kesimpulan Ironi:

Google membiarkan situs pemerintah menjadi sarang judi online karena "tertipu cangkang domain", namun di saat yang sama, Google mematikan situs edukator (yang sudah divalidasi oleh AI mereka sendiri sebagai situs hukum bermanfaat) hanya karena penggunaan kata kunci edukasi.

​Ini adalah bukti mutlak bahwa sistem moderasi Google lebih percaya pada Status Domain daripada Substansi Konten.

Kriteria Evaluasi Konten πŸ›‘️ Edukasi Anti-Scam (Konten KunciPro) Konten 🚫 Promosi Scam Murni (Pelanggaran Kebijakan)
Tujuan Utama Memberikan analisis kritis, transparansi, dan perlindungan konsumen. Menarik korban baru, mencari keuntungan finansial cepat (investasi bodong).
Gaya Bahasa & Tone Skeptis, analitis, menggunakan perspektif hukum/praktisi (E-E-A-T). Hiperbola, menjanjikan kekayaan instan, mendesak (urgency).
Call to Action (CTA) Menganjurkan pembaca untuk berhati-hati dan TIDAK mengirim uang. Menganjurkan pembaca untuk transfer deposit atau membagikan data pribadi.
Validasi Penulis Transparan, mencantumkan latar belakang akademis/profesi (S.H.). Anonim, menggunakan identitas palsu, atau mengklaim status "Ahli" tanpa bukti.
Pengakuan Sistem Google Lolos AdSense, terindeks Google News, Peringkat #1 Search. Sering ditolak atau di-de-index cepat.


Sanksi Kolektif: Pemblokiran Permanen YouTube dan Logika "SPAM" yang Cacat

Keputusan moderator Komunitas Pusat Penelusuran hanyalah puncak gunung es dari masalah sistemik yang lebih besar. Masalah ini diperparah dengan sanksi terberat yang dialami akun kami: pemblokiran permanen saluran YouTube setelah 12 tahun digunakan.

Tindakan YouTube ini bukan sekadar insiden terpisah. Ini adalah konfirmasi bahwa Akun Google kami—yang memiliki riwayat panjang dan menunjukkan loyalitas pada platform selama lebih dari satu dekade—telah di-flag di seluruh ekosistem Google sebagai "pelanggar berat."



Bukti bot youtube tidak melakukan tugas dengan baik


Begini isi email dari YouTube:

"Kami telah meninjau konten Anda dan menemukan pelanggaran berat atau berulang terhadap kebijakan spam, praktik penipuan, dan penipuan kami. Oleh karena itu, kami telah menghapus kanal Anda dari YouTube."


Padahal, konten video kami justru mempromosikan artikel dari situs yang membahas bahaya scam, bukan promosi untuk scam.

3.1 Penolakan Banding Robotik dan Kegagalan Konteks

Awalnya saya berfikir algoritma salah menilai dan mencoba ajukan banding. Penolakan banding sangat cepat, tidak sampai 10 menit. Ini adalah bukti kuat bahwa robot mengevaluasi robot; tidak ada peninjau manusia dalam keputusan.

Fakta Kunci Loyalitas: Akun YouTube berusia 12 tahun ini bukan merupakan channel creator yang dimonetisasi. View hanya seribuan dan subscriber hanya 18. Kami memiliki riwayat digital yang panjang dan bersih, namun hukuman permanen diberikan tanpa adanya teguran terlebih dahulu.

Perbandingan Kontras: Channel kecil yang loyal ini dibunuh secara permanen, sedangkan konten judol (judi online) dengan view ratusan ribu diberi kursi.

Kritik: Algoritma YouTube gagal membaca visual dan konteks; bot hanya membaca judul dan deskripsi. Ini adalah celah besar yang dimanfaatkan channel berbahaya dan mematikan channel edukasi.

3.2 Hukuman Kolektif dan Hirarki yang Cacat

Google adalah perusahaan pencatat digital terbesar, dan riwayat banned permanen akan berdampak buruk kepada platform lainnya. Mereka telah melabeli akun saya sebagai SPAM atau PROMOSI SPAM. Dan di sisi lain, mereka melabeli saya Penerbit YMYL dengan pengakuan yang begitu besar. Ini adalah misinkonsistensi dalam pencatatan.

Lalu hirarki sistem Google bagaimana?

Jika Google menerapkan sanksi kolektif—yaitu hukuman dari satu platform dapat merujuk pada platform lain tanpa evaluasi yang jelas—itu sangat tidak profesional. Mereka perusahaan besar yang menggunakan sistem liberal, tapi pada kenyataannya mereka adalah diktator, yang menghukum seluruh keluarga dengan cara tidak adil.

Kesimpulan Cepat: 

Niche YMYL memang berada di persimpangan jurang. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa jurang itu bukan hanya disebabkan oleh kurangnya effort penulis, melainkan oleh logika moderasi Google yang rentan dan represif yang menghukum penulis yang paling berkualitas tanpa hormat, bahkan mengabaikan riwayat loyalitas akun yang panjang.

Kesimpulan Final dan Tuntutan Pembenahan

Tiga sanksi berturut-turut—penghapusan postingan forum, pemblokiran YouTube, dan ancaman de-indexing—di tengah pengakuan kualitas AdSense dan Google News—mengukuhkan satu fakta: sistem moderasi Google telah rusak, tidak akurat, dan merugikan penerbit yang jujur.

Tuduhan moderator tidak hanya keliru; itu adalah kegagalan logika berpikir yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

4.1 Logika Diktator: Hukuman Kolektif dan Hirarki yang Cacat

Google, yang mengklaim beroperasi secara  Logika liberal, pada kenyataannya bertindak sebagai Logika diktator sepihak. Mereka menghukum seluruh "keluarga" (Akun Google) hanya karena kesalahan interpretasi (penggunaan kata kunci scam untuk edukasi) pada satu platform (YouTube), tanpa ada evaluasi kontekstual yang jelas di platform lain.

4.2 Tuntutan Pembenahan dan Reformasi Sistem

Kasus KunciPro.com adalah panggilan untuk mereformasi kebijakan moderasi Google sebelum kebijakan tersebut sepenuhnya menghilangkan voice yang paling penting: voice penulis independen yang berotoritas dan berani melakukan analisis kritis.

  • Penghentian Hukuman Kolektif Lintas Platform: Google harus menghentikan praktik penjatuhan sanksi kolektif. Sanksi dari satu platform tidak boleh otomatis merujuk pada sanksi di platform lain tanpa peninjauan ulang yang berbasis konteks oleh manusia.

  • Implementasi Mekanisme Banding Independen: Google harus menyediakan mekanisme banding yang transparan, independen, dan berbasis manusia (bukan otomatis) bagi penerbit terverifikasi. Kecepatan penolakan banding yang hanya 10 menit tidak dapat diterima.

  • Evaluasi Kinerja Moderator: Google wajib melakukan evaluasi kinerja peninjau konten internal. Peninjau harus dikenai sanksi karena mengabaikan bukti Kualitas dan Otoritas yang diberikan oleh sistem Google sendiri.

  • Klarifikasi Hirarki Algoritma: Google harus menjelaskan hirarki sistem moderasi mereka untuk meminimalisir tumpang tindih wewenang dan memungkinkan adanya pembatalan sanksi oleh entitas yang lebih tinggi jika terjadi kesalahan fatal.

Penutup Artikel: 

Kami tahu Google berwenang menentukan kebijakannya, suara kecil ini tidak akan mungkin sampai, hukuman baned permanen terlalu berlebihan untuk konten edukasi sensitif. Jika logika moderasi ini diteruskan, maka Dokter yang membahas kanker payudara akan diblokir karena dianggap pornografi, dan Pengacara yang membahas kasus korupsi akan diblokir karena dianggap mempromosikan kejahatan. Inilah kematian nalar konteks.

DISCLAIMER

Dokumen ini bukanlah keluhan individual atau serangan personal terhadap moderator. Ini adalah Audit Sistematis Gratis yang bertujuan untuk meninjau dan memperbaiki Cacat Desain Kebijakan yang saat ini menggerogoti kredibilitas internal Google. Kami menyajikan bukti metrik dari sistem Google sendiri untuk menyoroti Kegagalan Logika Sanksi Kolektif yang tidak hanya merugikan publisher berkualitas, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko hukum dan reputasi yang signifikan bagi Google di masa depan."

Apakah Anda pernah mengalami 'Banned Tanpa Alasan'? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Mari kita buat data ini terlihat.


(UPDATE 12 DESEMBER 2025)

​EPILOG: Komedi Putar Google & Solusi Mandiri

​Update ini saya tulis sambil menggelengkan kepala melihat betapa lucunya birokrasi raksasa teknologi.

Fakta 1: Thread Hidup & Moderator Bertanya

Hari ini, saya menemukan bahwa thread saya yang sebelumnya dihapus permanen karena "Spam", tiba-tiba dipulihkan.

Lebih ironis lagi, Moderator Komunitas kini membalas thread tersebut dan bertanya detail teknis: 

"Beralih ke cloudflare utk service apa ya? Bisa jelaskan lebih rinci?" [Baca: Thread Saya di Forum Google]

Komentar Saya:

Sungguh menggelikan.

Kemarin saya dituduh "Spammer" dan dibungkam. Hari ini, setelah artikel kritik saya tayang, mendadak saya dianggap mitra diskusi teknis yang layak ditanya-tanya.

Fakta 2: Solusi "Cut The Middleman"

Apakah saya akan membalas pertanyaan moderator di forum tersebut? TIDAK.

Pertanyaan itu sudah basi.

​Saat moderator Google sibuk bermain "Hapus-Pulihkan" thread, saya sudah menyelesaikan masalahnya sendiri dengan logika sistem sederhana: Membuang sumber masalahnya.

​Saya memutuskan tautan ke Cloudflare dan mengembalikan Nameserver ke pengaturan asli registrar (Hostinger). Tanpa Cloudflare, konflik SSL dan Redirect Loop di Blogger seketika hilang. Situs kembali normal.

Pesan Penutup:

Masalah teknis situs saya sudah selesai, bukan karena bantuan Forum Google, tapi karena saya berhenti berharap pada mereka dan memperbaiki jalur DNS saya sendiri.

Thread di forum itu biarlah menjadi monumen digital: Sebuah bukti bagaimana Google kehilangan kepercayaan pengguna setianya karena lambat, birokratis, dan gegabah dalam memvonis.

πŸŽ₯ Tonton Ringkasannya (2 Menit):

Sumber: KunciPro Media TV

πŸ›‘️ KUNCIPRO KREDIBILITAS & OTORITAS

Portal Verifikasi Tri Lukman Hakim, S.H. | Pakar Hukum & Analisis Sistem.

πŸ‘‰ BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR KUNCIPRO

Komentar

Post a Comment