Prilly Latuconsina #OpenToWork LinkedIn? Gimmick Elit Moral Sulit

Ilustrasi satir topeng dramaturgi Prilly Latuconsina dan gimmick Open To Work di LinkedIn by KunciPro.
SURABAYA, KunciPro.com (31/01/2026) Tiga hari lalu, algoritma LinkedIn diguncang gempa artifisial. Prilly Latuconsina, figur publik dengan segudang prestasi dan portofolio bisnis, tiba-tiba memasang lencana sakral: #OpenToWork.

​Narasi yang dibangun sangat humanis, merendah, dan membumi: 

"Jangan kaget dulu ya, bukan kekurangan aktivitas tapi ingin belajar hal baru."

​Bagi jutaan pengguna LinkedIn, ini adalah anomali. Seorang aktris papan atas, pengusaha muda, pemilik klub bola, tiba-tiba "turun kasta" menjadi pencari kerja. Simpati pun mengalir deras. Banyak yang merasa related

"Kalau sekelas artis saja butuh kerjaan kantoran, apalagi kita?"

​Prilly menegaskan ia bosan dengan manajemen bisnis dan ingin merasakan sensasi "Offline Sales"sebuah profesi yang identik dengan panas-panasan, target mencekik, dan penolakan klien.

Cacat Logika Sejak Awal

​Di sinilah alarm skeptis saya berbunyi.

Secara akal sehat, narasi ini sulit diterima logika. Seorang pengusaha sukses turun ke jalan menawarkan sabun door-to-door menggunakan mobil mewah? Atau menawarkan produk eceran ke korporasi yang level aksesnya sudah berbeda jauh?

​Kolega saya memberikan kritik pedas: 

"Buat apa jualin produk orang, mending jual produk sendiri."

​Namun, drama ini mencapai klimaksnya ketika akun resmi Sensodyne Indonesia muncul di kolom komentar dengan tawaran yang terlalu "rapi" untuk disebut kebetulan:

"Punten, ijin jumpin ya kak. Kalau debutnya langsung di Sensodyne lab weekend depan aja gimana?"


​Bagi mata awam, ini adalah keberuntungan. Bagi mata analis, ini adalah Eksekusi Naskah.

​Terungkaplah bahwa Prilly memang Brand Ambassador (BA) Sensodyne. Momen "mencari kerja", ratusan HRD yang berebut mengirim DM, hingga komentar Sensodyne, semuanya adalah bagian dari S3 Marketing tingkat lanjut.

Bedah Sosiologis: Manipulasi Dramaturgi

​Dalam kacamata sosiologi hukum, apa yang dilakukan Prilly dan tim marketingnya bukan sekadar iklan kreatif. Ini adalah sebuah Manipulasi Dramaturgi yang mengeksploitasi kepercayaan publik (public trust) di ruang digital.

​Sosiolog Erving Goffman dalam teorinya tentang Dramaturgi menyebutkan bahwa interaksi sosial adalah pertunjukan teater.

  • Panggung Depan (Front Stage): Prilly berperan sebagai "Jobseeker" yang rendah hati. Kostumnya adalah badge #OpenToWork. Naskahnya adalah "ingin belajar".
  • Panggung Belakang (Back Stage): Realitas kontrak bisnis yang sudah ditandatangani jauh-jauh hari.

​Ketika "Prank" ini terungkap, terjadilah pengkhianatan terhadap kontrak sosial LinkedIn. Platform yang seharusnya berbasis pada Trust dan Otentisitas profesional, diubah menjadi panggung simulakra (kepalsuan) demi engagement.

Eksploitasi Harapan & Romantisasi "Jobseeker"

​Yang membuat strategi ini problematis secara etika sosial adalah objek yang dijadikan bahan candaan: Status Pengangguran.

​Bagi jutaan rakyat Indonesia, badge #OpenToWork bukanlah stiker mainan atau fitur kosmetik. Itu adalah simbol kecemasan, simbol cicilan yang menunggak, dan simbol dapur yang terancam tidak ngebul.

​Strategi marketing ini meminjam simbol penderitaan tersebut untuk menciptakan hype. Ini adalah bentuk Romantisasi Kemiskinan (dalam konteks ini: kemiskinan peluang kerja) oleh kaum borjuis elit. 

Seolah-olah menjadi pencari kerja yang menunggu panggilan HRD adalah sebuah "petualangan seru", padahal bagi mayoritas orang, itu adalah fase hidup yang paling menyiksa mental.

Hukum Ketenagakerjaan vs Hukum Rimba Marketing

​Dari sisi hukum positif, memang tidak ada pasal pidana yang dilanggar. Namun, secara sosio-legal, fenomena ini menelanjangi ketimpangan akses terhadap pekerjaan (Access to Employment).

​Interaksi Prilly-Sensodyne adalah tamparan keras bagi meritokrasi. Ketika ribuan sarjana berdarah-darah mengikuti tes CPNS atau BUMN dan gagal, Prilly menunjukkan bahwa jalur "VIP" itu nyata. 

Tawaran kerja di kolom komentar itu—meskipun hanya sandiwara iklan—merepresentasikan budaya privilese yang justru sedang kita perangi.

Kesimpulan: Matinya Empati di Altar Viralitas

​Strategi ini mungkin sukses besar secara angka (metrics). Viral? Ya. Trending? Pasti. Produk dikenal? Tentu saja.

​Namun, ada harga mahal yang dibayar: Hilangnya Empati.

​Ketika perjuangan mencari nafkah dijadikan materi prank atau gimmick marketing, kita sedang bergerak ke arah masyarakat yang tidak peka (desensitized society). 

LinkedIn kini bukan lagi sekadar tempat mencari kerja, tapi telah resmi menjadi arena hiburan di mana penderitaan satu kaum bisa menjadi komedi putar bagi kaum lainnya.

Baca Juga Analisis Kritis Lainnya:

KUNCIPRO

Research Institute

πŸ‘‰ BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR

Komentar

Post a Comment