Stop Sebut Mereka Ormas! Mereka Sejatinya Hanyalah "Fans Club" Berjubah
π§ Males Baca? Biarkan Asisten Kami yang membacakan:
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
(Analis Hukum & Sistem)
Pernahkah Anda terjebak kemacetan karena konvoi kendaraan berseragam loreng atau atribut tertentu yang memenuhi jalanan dengan sirine meraung-raung? Masyarakat dan media sering latah menyebut mereka Ormas (Organisasi Masyarakat).
Namun, sebagai pengamat sistem sosial dan hukum, saya mengajak Anda untuk berhenti sejenak dan membedah istilah tersebut menggunakan logika dasar.
Kata "Masyarakat" itu sifatnya umum, luas, dan inklusif. Artinya, siapapun warga negara adalah bagian darinya. Namun, apa yang kita lihat di lapangan?
Kelompok-kelompok ini justru seringkali bergerak eksklusif, membatasi diri dengan sekat identitas, dan—ironisnya—sering membuat "Masyarakat" yang asli justru merasa terintimidasi.
Maka, sudah saatnya kita merevisi istilah itu. Saya mengusulkan istilah baru yang lebih akurat secara sosiologis: ORKELTU (Organisasi Kelompok Tertentu) atau sederhananya: Fans Club.
Sekarang banyak ormas yang tumbuh subur di tengah masyarakat, seakan mereka berlomba untuk menunjukkan eksistensi kelompoknya.
Jika masyarakat berkelompok-kelompok atau terkotak-kotak maka sangat riskan terjadinya gesekan antar kelompok, atau yang lebih parah gesekan dengan masyarakat itu sendiri.
Negara adalah organisasi yang besar tapi di dalam organisasi ada organisasi yang lain, dan organisasi itu lahir organisasi yang baru.
Dan jika demikian tidak menutup kemungkinan menghilangkan filosofis tujuan terbentuknya organisasi negara, karena yang dibawah sibuk untuk memperbesar dan fanatik terhadap organisasi anakan.
Sifat dan karakter nasionalis akan pudar tergantikan dengan ormanis tertentu, mereka lebih baik terluka demi membela kelompoknya dari pada bineka tunggal ika. Untuk itulah saya sebut ormas adalah fans club.
Analogi Warung Kopi: Bedanya Ormas vs Fans Club Bola
Mari kita buang kemunafikan sejenak. Apa bedanya organisasi berbasis Agama/Suku/Ras dengan Fans Club Sepakbola?
Jawabannya: NYARIS TIDAK ADA.
Mari kita lihat kemiripannya secara struktural:
1. Syarat Masuk yang Eksklusif (The Barrier to Entry)
Bisakah seorang fans fanatik Barcelona menjadi ketua di Fans Club Real Madrid? Mustahil. Mereka akan ditolak mentah-mentah karena beda jersey, beda visi dan misi serta beda pandangan.
Sama halnya, bisakah seorang Hindu atau Kristen menjadi pengurus inti di ormas berbasis Islam? Atau bisakah orang Jawa menjadi ketua Madas Madura Asli? Mustahil. Justru terjadi konflik akhir-akhir ini.
Jika keanggotaannya saja sudah dibatasi oleh sekat "Jersey" (Agama/Suku), lantas di mana letak "Masyarakat"-nya? Masyarakat itu majemuk. Jika eksklusif, itu namanya Geng atau Kelompok, bukan Masyarakat.
2. Mentalitas "Kami Paling Benar" (Hooliganism)
Fans Club selalu berteriak klub merekalah yang terbaik di dunia, sementara klub lawan adalah musuh.
Sama persis dengan mentalitas ORKELTU. Mereka selalu merasa kelompoknya paling suci, paling pribumi, atau paling berhak atas tanah ini.
Mentalitasnya sama persis dengan Hooligan bola, perbedaannya hanya terletak pada kostumnya: yang satu memakai Jersey, yang satu memakai Jubah atau Seragam Loreng.
Mematahkan Argumen "Kami Terbuka Untuk Umum"
Seringkali para pengurus organisasi ini membela diri dengan argumen klasik:
"Kami tidak membatasi anggota. Siapapun bisa bergabung ke organisasi kami, tidak ada larangan tertulis bahkan jika beda Agama, Adat, atau Suku."
Argumen ini cacat logika. Memang benar tidak ada larangan lisan, tapi Nama Organisasi Anda-lah yang menjadi sekat dan filter otomatis.
Bayangkan jika ada organisasi bernama "Pemuda Wanita Indonesia".
Apakah ada laki-laki tulen yang mau bergabung? Tentu tidak.
Dan jikapun ada laki-laki yang nekat bergabung, itu justru akan merusak identitas organisasi itu sendiri (namanya Wanita, kok isinya laki-laki?).
Secara tidak langsung, dengan menyematkan label Agama atau Suku pada nama organisasi, Anda sudah memfilter otomatis siapa yang layak masuk. Jadi, jangan berlagak inklusif jika dari papan nama saja Anda sudah eksklusif.
Infografis ormas vs fans club by kuncipro.com
Realita Lapangan: Fans Club yang Meminta "Tiket"
Perbedaan fundamental antara Fans Bola dan Orkeltu ada pada motif ekonominya.
Fans Club bola biasanya mengeluarkan uang pribadi untuk membeli tiket dan jersey demi mendukung tim kesayangan.
Sebaliknya, "Fans Club" beratribut ormas ini seringkali justru meminta uang kepada masyarakat yang mereka klaim mereka wakili.
- Ada proyek pembangunan? Datang meminta jatah "koordinasi".
- Ada ruko baru buka? Datang menyodorkan proposal yang "wajib" cair.
- Ada sengketa lahan? Datang menduduki lokasi, bertindak seolah-olah mereka adalah Hakim dan Eksekutor negara.
Bayangkan jika Fans Real Madrid tiba-tiba meminta jatah parkir di pasar sambil berteriak "Hala Madrid!". Sangat aneh, bukan?
Tapi kenapa ketika teriakan itu membawa nama Agama atau Suku, logika kita menjadi tumpul dan kita menjadi maklum? Padahal esensinya sama: Mereka hanyalah kelompok hobi yang sedang mencari keuntungan ekonomi.
Kesimpulan: Sebuah Koreksi Definisi
Tulisan ini tidak bermaksud melarang orang membuat "Fans Club". Silakan berkumpul sesama suku, silakan berserikat sesama agama. Itu adalah hak asasi yang dilindungi konstitusi, sama seperti hak seseorang menjadi fans Manchester United atau Liverpool.
Namun, tolong Tahu Diri.
Jangan karena jumlah anggota kalian banyak dan suara kalian lantang, lantas kalian merasa mewakili seluruh aspirasi "Masyarakat". Kalian hanya mewakili ego dan kepentingan "Kelompok Fans" kalian sendiri.
Berhentilah bersembunyi di balik nama suci "Masyarakat" untuk melegitimasi aksi jalanan. Kalian adalah ORKELTU. Fans Club yang kebetulan memiliki seragam, kartu anggota, dan proposal dana.
π‘️ KUNCIPRO KREDIBILITAS & OTORITAS
Portal Verifikasi Tri Lukman Hakim, S.H. | Pakar Hukum & Analisis Sistem.


Post a Comment