Pengguna Adblocker: Mau Konten, Tapi Iklan di-Skip — Itu Maling atau Munafik Digital?
Oleh: TRI LUKMAN HAKIM S.H., Analis Sistem & Hukum
ILUSI ROBIN HOOD & MATINYA KUALITAS
Masyarakat sering mengeluh kenapa informasi di internet banyak artikel sampah, copas berita, anonim, ARTIKEL ZOMBIE, dan hasil spin AI (Generate).
Para blogger pembuat artikel berkualitas dipaksa untuk berhenti berkarya. Mereka akan bilang: "Lebih baik main YouTube atau Facebook, tidak ada AdBlocker iklan di sana." Atau lebih parah lagi: "Lebih baik joget TikTok, tidak ada bagi hasil yang dipotong sana-sini."
Sadarkah kalian jika ilmu itu mahal? Jika pengalaman itu berharga?
Bagaimana penulis bisa berkembang jika dapur mereka kalian padamkan dengan AdBlocker?
- Tidak semua orang bisa menulis.
- Dan catat ini: Tidak semua orang mampu menerjemahkan "BAHASA DEWA" (Hukum/Teknis) menjadi bahasa rakyat.
Bukankah kemampuan itu perlu diapresiasi?
Banyak pengguna AdBlocker merasa diri mereka pahlawan. Mereka pikir mereka sedang "Melawan Kapitalisme Google" atau "Menghukum Perusahaan Rakus".
SALAH BESAR.
π NAVIGASI ANALISIS (Klik untuk Tutup)
Google itu raksasa. Duitnya triliunan. Kalian blokir iklannya, Google cuma geli-geli basah.
Tapi tahu siapa yang kalian bunuh pelan-pelan? KAMI.
Para Kreator konten kecil. Blogger independen. Penulis yang begadang riset hukum demi memberi kalian informasi valid secara GRATIS. Kalian bertingkah seperti Robin Hood (mencuri dari yang kaya), padahal aslinya kalian sedang Mencuri dari Pedagang Kaki Lima.
Di dalam ilmu hukum ada istilah: "Kalian berhak melakukan hak kalian, tapi jangan merugikan hak orang lain."
KLAIM PENULIS:
Tidak ada istilah "Sekolah Gratis" bisa membuat orang pintar. Ada harga, ada kualitas. Jika MENTAL GRATISAN masih melekat pada jiwa, maka tunggulah informasi yang kalian dapat tak ubahnya angin yang berlalu.
MOTIF DAN SEBAB-AKIBAT (LINGKARAN SETAN)
Setelah kita bedah kronologi kenapa internet dipenuhi dengan sampah plastik daur ulang, pada bab ini saya akan membedah motif pengguna AdBlocker.
Logika yang saya pakai adalah Asas Kausalitas (Sebab-Akibat), di mana ada sebab terjadinya peristiwa, dan ada akibat yang paling berdampak.
Ide diciptakannya AdBlocker pada awalnya karena merasa terganggu dengan iklan agresif, banner besar, dan pop-under yang mengejar-ngejar seperti sales dikejar target.
Itu benar dan wajar. Saya dukung 100%.
Tapi jangan membakar rumah semut hanya karena satu-dua semut menggigit hidung kalian.
Akibatnya apa? Terjadilah Lingkaran Setan (Vicious Cycle):
- Pendapatan Hancur: Kreator independen kehilangan pendapatan hingga 70-80%.
- Kualitas Turun: Karena tidak ada dana operasional, kreator punya dua pilihan:
- Berhenti nulis (Pensiun).
- Bikin konten "Clickbait" sampah yang penting viral.
- Atau pasang iklan yang makin agresif (Anti-Adblock Killer) biar kalian kesal.
- Pengguna Makin Marah: Kalian merasa internet makin sampah, lalu kalian makin kencang pakai AdBlocker.
Hasil akhirnya? Internet yang sehat mati.
Pengguna iklan nakal (situs download/judi), mereka tidak ada value yang ingin diberikan kepada pembaca. Mereka hanya mengejar trafik dari iklan. Dan itu SALAH.
Sedangkan penulis yang memberikan value, lebih memprioritaskan pembaca membaca tulisannya. Iklan hanya bonus dari pengguna yang merasa terbantu.
Polanya begini:
- Sebab: Karena iklan mengganggu.
- Akibat: Tampilan bersih tanpa iklan (pakai AdBlock).
- Dampak: Penulis yang menonjolkan tulisan daripada iklan juga ikut dibabat habis.
"Jika kuku yang panjang, potong kukunya, bukan tangannya."
Awalnya memang ide itu mulia, tapi sekarang saya mencium aroma kemunafikan, aroma GRATISAN.
Google bukan perusahaan pinggiran. Mereka perusahaan besar yang sangat menjunjung User Experience. Penerbit/penulis akan kena sanksi Ad Limit jika menerapkan Adsense secara membabi buta.
Sistem Google sekarang sudah adil:
Niatnya User senang tanpa iklan agresif menutup artikel, Google senang karena ada pengunjung, dan Penulis senang tulisannya dihargai.
Saya melihat pengguna AdBlocker rata-rata adalah orang menengah ke atas, bukan menengah ke bawah.
EKSPLOITASI HAK (MENTALITAS PARASIT)
Mengutip poin di Bab I: "Menjalankan hak kalian tanpa merampas hak orang lain."
Ini adalah istilah hukum yang sangat dalam dan penuh makna. Ini tentang bagaimana masyarakat memanusiakan masyarakat. Kalian punya hak untuk menggunakan AdBlocker demi kenyamanan. TAPI, para penulis juga punya hak untuk menayangkan iklan demi kelangsungan hidup.
Bukanlah orang itu dianggap bijaksana jika ia merampas hak orang lain demi kenikmatan semata.
Ibaratnya: Kalian makan di rumah makan, perut kenyang, lalu pergi tanpa membayar. Alasannya konyol: "Saya tidak suka lihat iklan mobil di TV restoran ini."
Sebenarnya saya ragu, para pengguna AdBlocker ini tidak suka iklan agresif atau memang mentalnya tidak suka ada iklan sama sekali?
Mari kita uraikan satu per satu:
- Tidak suka iklan agresif? Iklan obat kuat, judi, lendir dengan visual yang menutup artikel? Oke, kalau ini alasannya, kalian adalah pengguna cerdas. Saya dukung.
- Tidak suka iklan (titik)? "Apapun iklannya saya tidak mau lihat. Entah itu agresif ataupun sopan, pokoknya artikel harus bersih, saya dapat informasi, close, selesai."
Mari kita renungkan, kalian ada di posisi yang mana?
Jika kalian ada di posisi kedua, coba masuk ke dalam jiwa kalian dan bercermin. Saya menduga di sana tertulis: MENTALITAS PARASIT.
Apakah kalian akan membakar baliho iklan di pinggir jalan hanya karena merusak pemandangan?
Itu iklan untuk informasi produk atau jasa agar masyarakat tahu harus ke mana jika membutuhkan sesuatu. Bayangkan jika tidak ada iklan, lalu masyarakat bingung beli di mana, akhirnya salah informasi dan tertipu jutaan rupiah.
Bedakan antara Iklan Resmi dengan Sampah Visual (seperti poster Caleg yang dipaku di pohon). Blog ini adalah baliho resmi, bukan paku di pohon.
Logika "Hacker" Palsu
Mari bicara jujur. Kalian merasa pintar karena bisa memblokir iklan? Kalian merasa "Hacker" karena bisa membobol paywall?
Tidak. Kalian hanyalah BENALU.
Tahu apa itu Benalu?
Makhluk yang menempel pada inangnya, menyedot nutrisi sampai inangnya mati kering, lalu si Benalu dengan santai pindah mencari inang baru atau ikut mati. Itulah kalian.
Kalian menyedot nutrisi (informasi/hiburan) dari website kami. Tapi kalian menolak memberikan nutrisi balik (iklan). Kalian biarkan host (penulis) mati kelaparan, lalu ketika website-nya tutup, kalian pindah ke website lain untuk kalian hisap lagi.
Banyak dari kalian berdalih: "Internet harusnya gratis! Information wants to be free!"
Itu cuma pembenaran dari sifat KIKIR kalian.
- Kalian rela bayar jutaan buat beli skin game.
- Kalian rela bayar mahal buat beli kuota internet ke provider (konglomerat).
- Kalian rela antre beli kopi brand asing seharga nasi padang.
Tapi giliran diminta "membayar" penulis lokal dengan cara melihat iklan 5 detik saja... kalian teriak "Mengganggu Hak Asasi!".
Kalian bukan pejuang privasi. Kalian cuma orang pelit yang ingin terlihat idealis.
Kalian mengeksploitasi kerja keras orang lain demi kenyamanan receh kalian sendiri.
DAMPAK RISIKO TERHADAP ASET DAN HUKUM (The Real Cost)
Pikirkan ini: Jika penulis yang riset bertahun-tahun tidak bisa mendapat imbalan, kami akan Pensiun.
Siapa yang menggantikan?
Robot AI dan penulis sampah yang hanya mengejar clickbait.
Kalian bayar mahal untuk kuota, tapi kalian mengorbankan kualitas informasi demi kenyamanan 5 detik.
Apakah kerugian jutaan rupiah karena terjebak scam lebih murah daripada melihat satu iklan di blog kredibel? Tentu tidak.
Pilihan ini berdampak pada keselamatan finansial dan hukum kalian sendiri.
Tulisan ini saya buat bukan untuk memaksa kalian mematikan AdBlocker detik ini juga. Tidak.
Tulisan ini saya buat untuk menyadarkan alam bawah sadar kalian, bahwa di balik layar gadget kalian, ada manusia-manusia yang sedang berjuang menyajikan informasi terbaik.
Gunakanlah kebijaksanaan dalam dunia digital.
Ingatlah, satu tindakan tanpa pikir panjang (seperti memblokir sumber pendapatan penulis) akan berdampak pada kehidupan jangka panjang (matinya ekosistem informasi yang sehat).
Jika kalian ingin internet tetap dipenuhi oleh tulisan manusia yang berjiwa, bukan tulisan robot yang kaku, mulailah menghargai karya mereka.
Caranya sederhana:
Cukup masukkan website kreator favorit kalian ke dalam daftar putih (Whitelist).
Biarkan iklan tampil sejenak sebagai bentuk "Jabat Tangan" dan ucapan terima kasih.
Pilihan ada di jari kalian:
Menjadi Pendukung yang menghidupkan, atau menjadi Parasit yang mematikan.
π‘️ KUNCIPRO KREDIBILITAS & OTORITAS
Portal Verifikasi Tri Lukman Hakim, S.H. | Pakar Hukum & Analisis Sistem.

ORCID: 0009-0003-4829-1185
Post a Comment