-->

[BAB III] Analogi Mobil Probolinggo: Mengapa Pejabat "Salah Kamar" Mendadak Lelah dan Takut Diaudit?

Desember 28, 2025


Ilustrasi bupati pronolinggo melakukan cek mesin birokrasi

🎧 Sedang Sibuk? Biarkan Asisten Kami yang menjelaskan:


Oleh: Tri Lukman Hakim, SH Analis Sistem dan Hukum

BAB III: ZONA NYAMAN YANG TERUSIK

Antara Lelah atau Takut Diaudit?

​Setelah membedah kondisi "Mobil Birokrasi" yang turun mesin di BAB II, kini kita sampai pada pertanyaan yang paling mengusik nalar publik: Kenapa gelombang "minta istirahat" ini terjadi mendadak tepat saat nakhoda baru mulai memegang kendali?

​Sebagai Analis Sistem, saya melihat ada anomali logika yang sangat kontras di sini. Mari kita bedah motif di balik fenomena "Lelah Massal" ini menggunakan pisau analisis manajemen risiko dan psikologi birokrasi.

3.1 Paradoks "Lelah" yang Mendadak

​Birokrasi itu gedung pencakar langit, bukan candi yang dibangun semalam. Pejabat yang sudah duduk bertahun-tahun di kursi strategis seharusnya adalah orang-orang yang sudah "kenyang" dengan tekanan.

​Namun, mengapa saat Gus Haris datang dengan alat deteksi mesin yang baru, tiba-tiba banyak yang merasa nafasnya sesak? Ada dua kemungkinan diagnosa di sini:

  • Lelah karena Beban Kerja (Genuine Fatigue): Mereka benar-benar bekerja keras selama ini namun di bawah sistem yang salah.
  • Lelah karena "Ganti Gaya Main" (Strategic Retreat): Mereka lelah bukan karena kerja, tapi lelah karena tidak bisa lagi menggunakan "cara lama" untuk bertahan.

​Dalam sistem hukum, pengunduran diri atau permintaan "istirahat" di tengah masa transisi seringkali merupakan bentuk Exit Strategy. Ini adalah cara paling halus untuk menghindari evaluasi kinerja yang mendalam atau menghindari mutasi penurunan jabatan.

3.2 Takut Diaudit: Bayang-Bayang "Salah Kamar"

​Mari kita jujur: Selama bertahun-tahun, fenomena "Salah Kamar" dinikmati sebagai zona nyaman. Selama mobil berjalan pelan dan tidak pernah dicek jeroannya, pejabat yang tidak kompeten bisa tidur nyenyak di kursi empuknya dengan AC menyala.

​Namun, ketika Gus Haris bertindak sebagai "Montir Baru" yang menuntut presisi, akuntabilitas, dan transparansi, Zona Nyaman itu berubah menjadi Zona Bahaya. Sinyal alarm mereka berbunyi menandakan ada sesuatu bahaya yang datang. Alarm ini membangunkan mereka dari tidur panjang yang menyenangkan.

​Mereka yang selama ini menduduki jabatan tanpa kompetensi yang sesuai (Malapraktik Sistem Merit) mulai sadar bahwa:

  • Audit Kompetensi akan membongkar ketidakmampuan mereka.
  • Audit Kinerja akan membongkar minimnya output yang mereka berikan selama ini.
  • Audit Anggaran (mungkin saja) akan membongkar ketidaksesuaian administrasi yang selama ini tertutup debu birokrasi.

​Memilih "istirahat" sebelum diaudit adalah langkah taktis untuk menyelamatkan muka. Namun, secara moral, ini adalah pengkhianatan terhadap amanat jabatan. Padahal, bukankah banyak ASN kuliah lagi untuk memperdalam keilmuan? Bukankah rutin ada uji kompetensi dan seminar kementerian?

​Jika posisi yang ditempati adalah kepala, bukankah ada bawahan dan tim yang mengelola? Tidak mungkin bekerja sendiri. Disaat orang sibuk berebut kursi dan jabatan—dari saling sikut sampai saling tusuk—ini malah dengan "kerendahan hati" melepas karena lelah. Menurut logika politik birokrasi, itu anomali yang tidak wajar. Ada apa?

3.3 Pesan untuk Sang Montir Baru

​Gus Haris tidak perlu merasa bersalah atas "lelahnya" para pejabat ini. Dalam hukum manajemen, jika sebuah komponen mesin merasa panas padahal mesin baru saja dinyalakan, itu tandanya komponen tersebut memang sudah tidak layak pakai (afkir).

​Membiarkan mereka "istirahat" adalah keputusan tepat, TAPI dengan satu syarat: Audit tetap harus berjalan. Jangan sampai pintu istirahat menjadi pintu pelarian dari tanggung jawab masa lalu.

KESIMPULAN BAB III

​Publik Probolinggo tidak butuh pejabat yang hanya mau duduk saat "cuaca cerah". Kita butuh petarung yang siap memperbaiki mesin bersama-sama. Jika mereka minta turun dari kendaraan karena SOP menyetir sekarang jadi lebih ketat, maka silakan turun. Jalanan Probolinggo terlalu terjal untuk diserahkan kepada pengemudi yang manja dan takut pada aturan.

​Januari nanti bukan hanya soal ganti orang, tapi soal "Sterilisasi Sistem".

[EPILOG]

​Birokrasi bukan panti jompo tempat orang meminta istirahat saat dituntut bekerja. Birokrasi adalah pengabdian. Jika lelah mengabdi, silakan kembali menjadi rakyat jelata.

πŸ“Ί LIHAT ANALISIS VISUALNYA

Kurang puas cuma baca? Tonton bedah kasus "Mobil Birokrasi Probolinggo" selengkapnya di sini:


πŸ›‘️ KUNCIPRO KREDIBILITAS & OTORITAS

Portal Verifikasi Tri Lukman Hakim, S.H. | Pakar Hukum & Analisis Sistem.

πŸ‘‰ BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR KUNCIPRO

Komentar

Post a Comment