[OPIN SERI-2] MOBIL BIROKRASI PROBOLINGGO: Saat Bupati Harus Menjadi "Mekanik"
π§ Sedang Sibuk? Biarkan Asisten Kami yang menjelaskan:
(Catatan Redaksi: Artikel ini adalah lanjutan dari analisis sebelumnya. Jika Anda belum membaca diagnosa awal tentang "Analogi Mobil Rusak", silakan baca [BAB I: Analogi Mesin dan Ilusi Kompetensi] terlebih dahulu).
BAB II
Tragedi "Salah Kamar" dan Warisan Malapraktik Sistem Birokrasi
Melanjutkan diagnosa di BAB I, penting untuk meluruskan satu hal mendasar agar publik tidak salah tafsir: Kerusakan pada "Mobil Birokrasi" Probolinggo saat ini bukanlah kesalahan pengemudi sekaligus mekanik baru (Gus Haris).
Beliau baru saja memegang kemudi dan mewarisi kendaraan yang, dalam bahasa teknis, kondisinya "Cacat Bawaan".
Pengakuan beliau di media massa bahwa banyak pejabat "minta istirahat" adalah bukti otentik betapa parahnya kerusakan sistem kepegawaian yang diwariskan masa lalu. Sebagai Analis Hukum, saya menyebut ini sebagai Warisan Malapraktik Sistem Merit. Inilah beban berat yang harus dibongkar pada Januari nanti.
2.1 Dosa Masa Lalu: Asal-Usul "Salah Kamar"
Fenomena "Salah Kamar"—di mana pejabat menduduki kursi yang tidak sesuai keahliannya—tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil akumulasi kebijakan bertahun-tahun yang menabrak prinsip dasar UU ASN No 20 Tahun 2023.
Dulu, penempatan jabatan mungkin lebih didasarkan pada "Kedekatan" daripada "Kompetensi". Atau lebih parah lagi, ada indikasi sengaja ditempatkan salah kamar karena sentimen politik (membuang orang pintar ke tempat kering).
Akibatnya Fatal:
Kita melihat anomali sistemik seperti Sarjana Pendidikan mengurus proyek fisik, atau Sarjana Pertanian mengurus administrasi kependudukan.
Efek Jangka Panjangnya:
Mereka bekerja dalam ketakutan. Takut salah, takut melanggar hukum, dan tidak menguasai materi teknis.
Wajar jika sekarang, di era kepemimpinan baru yang menuntut kinerja cepat, akurat, dan transparan, mereka "angkat tangan" dan minta istirahat. Mental mereka sudah bukan mental petarung, tapi mental "Penumpang Selamat" yang panik karena sopirnya ganti gaya menyetir.
2.2 Dilema Sang Montir Baru
Gus Haris kini berdiri sebagai "Montir Baru" yang menghadapi pilihan sulit.
Strategi beliau untuk "memperbaiki pelan-pelan" dan "mengarahkan" adalah pendekatan yang manusiawi dan bijak. Beliau tidak ingin langsung membuang orang (mesin) begitu saja. Namun, tantangan hukum dan sistemiknya adalah: Seberapa parah kerusakannya?
- Kasus Ringan (Kurang Oli): Jika pejabat tersebut hanya kurang kompetensi teknis (tapi basic-nya sesuai), maka bisa diperbaiki dengan pelatihan dan arahan seperti yang diharapkan Gus Haris.
- Kasus Berat (Turun Mesin): Tapi jika pejabat tersebut sudah lama tidak ganti oli (jarang dievaluasi, dimanjakan, dan background pendidikan tidak nyambung), maka sekali ada tekanan kerja tinggi, mesin itu akan jebol.
Artinya, harus ada mesin baru yang menggantikan.
Jika tetap memaksanya bekerja—meski diarahkan pelan-pelan—justru berisiko bagi Gus Haris sendiri. Dalam Manajemen Risiko Sistem, mempertahankan komponen yang tidak kompatibel akan menghambat laju kendaraan secara keseluruhan.
2.3 Mutasi Januari: Koreksi Total, Bukan Sekadar Geser
Momentum mutasi Januari nanti harus dimaknai sebagai Operasi Pemulihan Sistem Massal, bukan sekadar bagi-bagi kursi atau "tukar guling" jabatan.
Gus Haris perlu didukung penuh untuk melakukan Audit Kompetensi yang jujur:
- Yang "Salah Kamar" harus dikembalikan ke "Kamar yang Benar" (Sesuai ijazah/keahlian).
- Yang "Minta Istirahat" harus dihormati keputusannya dan dipersilakan mundur. Memaksakan mereka tetap menjabat justru melanggar Sumpah Jabatan karena bekerja tidak profesional.
KESIMPULAN
Kita harus adil melihat situasi. Bupati baru sedang menanggung beban "turun mesin" akibat kelalaian perawatan di masa lalu.
Tragedi "Salah Kamar" ini adalah penyakit kronis. Obatnya memang pahit (mutasi, demosi, atau non-job), tapi itulah satu-satunya jalan agar Mobil Birokrasi Probolinggo bisa berlari kencang sesuai harapan rakyat.
Biarkan Gus Haris memperbaiki mesinnya. Tugas kita sebagai publik adalah mengawasi agar tidak ada lagi "montir nakal" yang menyelipkan sparepart titipan di detik-detik terakhir.
[SELANJUTNYA DI BAB III]
Zona Nyaman yang Terusik: Antara Lelah atau Takut Diaudit?
Namun, ada satu logika yang mengganjal.
Terlihat ada yang aneh, kenapa baru sekarang para pejabat angkat tangan dan memilih istirahat?
Fenomena "salah kamar" ini sudah terjadi bertahun-tahun. Tidak mungkin mereka baru sadar kalau mereka tidak mampu dalam hitungan bulan.
Apakah mereka benar-benar lelah? Atau jangan-jangan mereka selama ini menikmati posisi itu (karena tidak dituntut kinerja), dan sekarang panik karena ada Montir Baru yang membawa alat deteksi?
Nantikan analisis motif di balik "pengunduran diri massal" ini. Segera tayang, hanya di KunciPro!
Kurang puas cuma baca? Tonton bedah kasus "Mobil Birokrasi Probolinggo" selengkapnya di sini:
πΊ LIHAT ANALISIS VISUALNYA

Post a Comment