DAYA BELI TINGGI PENDAPATAN KECIL: INFLASI GAYA HIDUP KOTA


Ilustrasi paparan iklan yang membuka cara pandang kita terhadap brand by kuncipro

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

(Co-Founder KunciPro Research & Eks Praktisi Riset Pasar)

​Kuncipro.com - Pernahkah Anda bertanya, kenapa tetangga Anda yang gajinya pas-pasan nekat kredit motor sport? Atau kenapa kita sering membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya karena ada diskon "Tanggal Kembar"?

​Selama beberapa tahun menjadi mitra riset lapangan untuk raksasa survei dunia (seperti Nielsen, Ipsos, dan Kantar), saya mengetuk ratusan pintu rumah dan melihat langsung isi dapur masyarakat. 

Bahkan sampai pernah ditolak masuk di Desa X oleh Kepala Desa setempat. Dari pengalaman empiris itulah, saya menemukan fakta yang meresahkan:

"Keputusan pembelian kita TIDAK PERNAH rasional. Kita semua adalah korban manipulasi sosiologis dan psikologis."


​Dalam riset terbaru saya yang berjudul "Determinasi Sosiologis dalam Pola Konsumsi Masyarakat Kontemporer", saya membongkar tiga dalang utama di balik kegilaan belanja ini. Berikut rangkumannya:

1. Matinya "Homo Economicus": Kita Beli Gengsi, Bukan Fungsi

​Teori ekonomi klasik bilang manusia itu rasional (Homo Economicus). Hitung untung rugi sebelum beli.

Faktanya? NOL BESAR.

​Riset saya menunjukkan pergeseran dari Nilai Guna (Use Value) ke Nilai Tanda (Sign Value).

  • ​Anda tidak membeli kopi karena haus (Fungsi).
  • ​Anda membeli kopi Starbucks untuk menunjukkan "Saya Mampu" atau "Saya Modern" (Simbol).

​Barang kini menjadi "Tiket Masuk" pergaulan. Tanpa barang itu, Anda takut kena sanksi sosial alias dikucilkan oleh peradaban modern. Ini yang bikin orang gaji UMR rela makan mie instan demi nyicil gadget BOBA.

2. Paradoks Pendapatan: Gaji Naik, Masalah Nambah

​Ada asumsi kalau gaji naik, orang makin bijak.

Temuan lapangan saya justru sebaliknya: Peningkatan pendapatan seringkali tidak berbanding lurus dengan rasionalitas.

​Yang terjadi adalah Inflasi Gaya Hidup. Pendapatan hanya numpang lewat untuk membayar cicilan "status sosial" yang makin mahal. 

Rasionalitas fungsional justru kadang hanya ditemukan pada segmen masyarakat yang benar-benar mapan (Old Money), bukan pada kelas menengah yang "kaget kaya" (OKB).

3. Hegemoni Iklan: Menciptakan "Kebutuhan Palsu"

​Ini poin paling mengerikan. Iklan tidak lagi berfungi memberi informasi ("Ini sabun, fungsinya membersihkan").

Iklan modern berfungsi menanamkan Artificial Needs (Kebutuhan Buatan).

​Mereka memanipulasi alam bawah sadar Anda dengan narasi:

  • "Kalau gak pakai produk ini, kamu bau."
  • "Kalau gak punya mobil ini, kamu bukan ayah yang baik."

​Iklan menciptakan rasa Insecure, lalu menjual produk mereka sebagai obat penawarnya. Ini adalah bentuk penjajahan kognitif yang halus tapi mematikan.

Mereka para pengiklan tidak merubah cara atau strategi berbisnis iklan bukan dengan data asal. Mereka melihat pola dan tingkah laku kita yang pada kodratnya suka ditakut-takuti akan terjadinya sesuatu.

KESIMPULAN

​Pola konsumsi kita adalah hasil "persekongkolan jahat" antara:

  1. Tekanan Sosial (Takut dibilang miskin).
  2. Manipulasi Iklan (Cuci otak).
  3. Ilusi Ekonomi (Merasa mampu padahal cuma mampu nyicil).

​Sebagai konsumen cerdas, saatnya kita sadar. Jangan biarkan "Otak Reptil" kita dikendalikan oleh sistem kapitalis yang memang didesain untuk menguras dompet Anda.

πŸ“₯ DOWNLOAD JURNAL LENGKAP (PDF)

​Penasaran dengan data lengkap dan analisis sosiologis mendalam mengenai fenomena ini? Termasuk detail pengalaman etnografi saya selama menjadi peneliti lapangan?

​Silakan unduh dokumen Karya Ilmiah Lengkap saya yang telah dipublikasikan di repositori ilmiah Zenodo:

​πŸ‘‰ [KLIK DI SINI UNTUK BACA FULL PAPER]

(Gratis, sebagai sumbangsih literasi dari KunciPro Research)

KunciPro Logo

πŸ›‘️ KUNCIPRO KREDIBILITAS & OTORITAS

Portal Verifikasi Tri Lukman Hakim, S.H. | Pakar Hukum & Analisis Sistem.

πŸ‘‰ BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR KUNCIPRO

Komentar

Post a Comment