--> -->

Matinya Esensi 1 Abad NU Di Bawah Bayang-Bayang Tokoh Besar Prabowo R1

Ilustrasi panggung untuk prabowo subianto di depan jamaah nu di acara 1 abad nu. By kuncipro

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

(Founder KunciPro Research Institute)

MALANG — Stadion Gajayana menjadi tempat  untuk memeriahkan 1 abad NU. Tapi seperti yang diberitakan oleh Jawa Pos Radar Malang Presiden Prabowo menyampaikan terima kasih atas NU jaga perdamaian.

Malang menjadi kota yang padat sejak kedatangan orang no 1 di Indonesia, perjuangan NU untuk terus eksis dan menjadi organisasi Islam terbesar turun andil dalam menjaga kedamaian.

Ribuan manusia berkumpul, bendera-bendera hijau berkibar, dan satu abad sejarah diletakkan di atas pundak jamaah. Namun, jika kita melihat tajuk utama media hari ini, ada yang hilang. Sejarah seratus tahun itu seolah "menciut" dan tenggelam di bawah deru mesin protokoler kenegaraan.

Kami melihat informasi ini sebagai kanibalisme, disaat harusnya media menyorot keberhasilan NU, sejarah-sejarahnya dan tokoh-tokoh pendiri dan penerus. Mereka lebih memilih menyorot kehadiran Prabowo.

Tidak ada yang salah secara substansi tapi secara emosional kurang tepat, jika tamu undangan lebih besar pengaruhnya dari suatu acara maka akan hilang esensi dari acara tersebut.

​Paradoks "Panggung Besar"

​Dalam teori sosiologi hukum dan komunikasi, ada sebuah fenomena di mana kehadiran tokoh politik tingkat tinggi seringkali melakukan "Hijacking of Essence" (Pembajakan Esensi). Ketika seorang Presiden, atau tokoh besar hadir dalam sebuah perayaan institusi/organisasi, fokus media secara otomatis bergeser dari "Apa yang diperjuangkan institusi ini?" menjadi "Siapa yang datang ke acara ini?".

​Harlah 1 Abad NU seharusnya menjadi panggung untuk membicarakan manifesto abad kedua: tentang kemandirian ekonomi umat, tentang benteng ideologi melawan radikalisme, atau audit peran NU dalam menjaga konstitusi. Namun, apa yang kita dapatkan dari narasi media? Lambaian tangan, ucapan terima kasih singkat, dan pengamanan ketat.

​Saat Institusi Menjadi "Backdrop" Politik

​Ada ironi yang pedih di sini. Organisasi yang telah berdiri 100 tahun, bahkan lebih dulu terbentuk sebelum Indonesia, yang memiliki akar rumput hingga ke pelosok desa, seolah hanya diposisikan sebagai "latar belakang" yang megah untuk menunjukkan legitimasi seorang tokoh.

​Ketika berita lebih sibuk melaporkan "Presiden menyapa jamaah" daripada "Apa pesan ideologis 1 abad NU untuk masa depan bangsa", maka di situlah kita melihat matinya esensi. Perjuangan berdarah-darah para pendiri NU selama satu abad kalah pamor dengan durasi kunjungan 60 menit seorang pejabat.

​Kritik KunciPro: Dominasi vs Substansi

​Kita harus mulai kritis melihat bagaimana media mengemas sebuah acara besar.

  1. Personalisasi Narasi: Media lebih suka menjual sosok (individu) daripada nilai (institusi). Sosok Presiden adalah komoditas klik (clickbait) yang lebih laku daripada sejarah resolusi jihad.
  2. Marginalisasi Ideologi: Pesan perjuangan NU yang seharusnya menjadi menu utama, justru hanya menjadi "hiasan" di paragraf terakhir.
  3. Kekalahan Pamor: Jika tokoh besar datang ke acara yang tak kalah besar, namun esensi acara tersebut hilang, maka sebenarnya acara tersebut sedang mengalami "Erosi Identitas".

Disini kami tidak bermaksud menyalahkan kehadiran Prabowo di harlah NU, tidak bermaksud melawan narasi media, tapi dengan maksud mengembalikan panggung pada tempatnya.

Siapa yang datang? Prabowo Subianto, Apa agenda acaranya? 1 abad NU, Lalu siapa yang paling disorot media? Prabowo, kemana NU? Mereka asyik bertepuk tangan.

​Kesimpulan: Kembalikan Panggung kepada Pemiliknya

​Harlah 1 Abad bukan tentang siapa yang datang duduk di kursi VVIP, bukan seberapa banyak media yang meliput dan bukan seberapa banyak jamaah yang hadir. Ini tentang jutaan warga Nahdliyin yang menjaga denyut nadi republik ini, yang bahkan tidak ikut hadir dalam acara. Jangan biarkan riuh tepuk tangan untuk seorang tokoh membungkam refleksi panjang tentang jati diri organisasi.

​Jika kita terus membiarkan narasi politik menunggangi setiap momentum sejarah institusi, maka ke depan, kita tidak akan lagi merayakan "perjuangan", melainkan hanya merayakan "kehadiran".

KunciPro: Mengaudit Realita, Mendekonstruksi Narasi.

KUNCIPRO

Research Institute

👉 BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR

Komentar