Prediksi Mengerikan WEF 2026: Pengangguran RI Meledak, Siap-Siap Kriminalitas & Wabah Judol Merajalela

Ilustrasi prediksi mengerikan dari wef pengangguran Indonesia meningkat pesat by kuncipro

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H. | Founder KunciPro Research Institute

Jika siang tadi saya membahas Pesan Tersirat SBY di Forum WEF Swiss tentang ancaman perang global, malam ini saya dedikasikan untuk membahas dampak paling nyata di depan mata kita: Nyawa dan Nasib Pekerja.

Dilansir dari CNN Indonesia hari ini (25/01/2026), World Economic Forum (WEF) merilis peringatan mengerikan dalam Global Risks Report 2026. Hasilnya? Pengangguran adalah ancaman Nomor 1 bagi Indonesia dalam periode 2026-2028.

Laporan ini adalah "tamparan keras" bagi narasi Pemerintah yang tadi pagi masih sesumbar soal Target Ekonomi 5,4% dan Fundamental Kuat. Apalah arti angka statistik 5% jika rakyatnya tidak punya pekerjaan?

Tidak semua rakyat, hanya rakyat kelas bawah yang akan merasakan dampak paling kritis ini. Prediksi saya jika peringatan yang dilontarkan WEF benar, bukan hanya kejahatan yang meluas tapi akan ada demo besar-besaran dari berbagai kalangan bawah.


1. Data APINDO Membongkar Kebohongan "Investasi = Kerja"

Selama ini kita didoktrin: "Tenang, investasi asing masuk, lapangan kerja pasti banyak." BOHONG BESAR.

Data dari Bob Azam (APINDO) dalam berita tersebut sangat menohok logika kita:

  • 5 Tahun Lalu: Investasi Rp 1 Triliun bisa menyerap 4.000 - 5.000 pekerja.
  • Tahun 2026: Investasi Rp 1 Triliun hanya menyerap 1.400 pekerja.

Artinya apa? Daya serap tenaga kerja anjlok drastis! Investasi yang masuk ke Indonesia sekarang adalah Padat Modal (Mesin & AI), bukan Padat Karya (Manusia).

Pabrik nikel dan smelter mungkin berdiri megah, tapi yang bekerja adalah robot dan didominasi tenaga ahli asing, sementara pemuda lokal gigit jari hanya jadi penonton. Ini seperti final Piala Dunia yang diadakan di Gelora Bung Karno, padahal kita tahu Indonesia gagal lolos.

2. Kompetisi Maut: 10 Kursi Diperebutkan Ribuan Orang

Sarman Simanjorang (Kadin) menambahkan fakta lapangan yang lebih miris. Setiap tahun, ada 3 Juta angkatan kerja baru (Lulusan SMA/SMK/Sarjana) yang masuk pasar. Tapi kuota kerja yang tersedia sangat minim.

3 Juta pendatang baru, sementara "kakak tingkatnya" yang 3 Juta tahun kemarin belum juga kerja. Ini menumpuk peluru yang tidak tahu kapan dilepaskan, sampai berkarat dan tidak produktif lagi.

Pemerintah tidak mau tau, Anda kerja atau tidak, pengangguran atau PHK, pajak tetap 100% dari kita. Disaat itu terjadi, anehnya muncul survei kepuasan Pemerintah bahwa masyarakat "sangat puas" dengan kinerjanya. Ini sangat aneh, seolah mereka hanya menjaga angka elektabilitas untuk mencalonkan lagi di masa mendatang.

⚠️ FENOMENA "HUNGER GAMES" LOKER:
"Dibutuhkan 10 orang, yang melamar ribuan." Ini bukan lagi kompetisi sehat, ini adalah keputusasaan massal.

Dampaknya? Perusahaan bisa semena-mena menekan gaji. "Kamu gak mau gaji 2 juta? Silakan pergi, ada 1.000 orang antre di belakangmu." Inilah penyebab kenapa kelas menengah Indonesia turun kasta menjadi miskin.

3. Solusi Pemerintah Salah Resep?

Kadin menyarankan percepatan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap tenaga kerja. Ide bagus di atas kertas.

Tapi faktanya di lapangan? Program ini justru menuai resistensi karena dugaan korupsi bon dan kualitas rendah, sampai-sampai Sekolah Elit Menolak Program MBG karena alasan higienitas dan anggaran.

Apalagi di bawah tanah muncul kecemburuan sosial. Guru honorer yang bertahun-tahun kerja gaji masih 1 Juta ke bawah, sedangkan karyawan MBG diangkat jadi P3K yang setara ASN secara Gaji. 

Mungkin rakyat masih mengidolakan ASN sebagai jaminan pekerjaan stabil, sampai rela mengabdi jadi honorer bertahun-tahun dengan harapan Pemerintah iba.

Jika program andalan penyerap kerja saja bermasalah dalam eksekusi, lantas ke mana lagi 3 juta sarjana baru ini harus berharap?

KESIMPULAN: NEGARA SALAH ARAH?

Laporan WEF ini adalah konfirmasi bahwa kita sedang duduk di atas bom waktu demografi.

  1. Tingginya Kriminalitas: Begal dan penipuan akan merajalela karena desakan perut.
  2. Wabah Judi Online: Jalan pintas bagi mereka yang putus asa cari kerja halal.
  3. Pinjaman Online: Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan deposit Judi Online.

Siklusnya mudah ditebak: Pengangguran melahirkan kriminalitas, dan kriminal tidak jauh dari judi online. Jika kalah, pinjaman cepat seperti Pinjol sangat diminati. 

Akan ada kredit macet massal di tahun mendatang jika pemerintah masih asik dalam dunia mimpi kenaikan ekonomi 5,4 persen.

Bagi Anda para pencari kerja, tahun 2026-2028 akan menjadi medan perang yang brutal. Tingkatkan skill, jangan hanya mengandalkan ijazah, dan berhenti percaya janji manis "Pertumbuhan Ekonomi 5%" jika dompet Anda masih kosong.

KUNCIPRO

Research Institute

πŸ‘‰ BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR

Komentar

Post a Comment