PENGAKUAN DOSA MENKEU PURBAYA: Sebut Pemerintah Gak Becus

Ilustrasi menteri keuangan purbaya menyampaikan statemen soal negara tidak becus urus ekonomi

SURABAYA, KunciPro.com (27/01/2026) – Sebuah pengakuan mengejutkan meledak di Thamrin Nine Ballroom hari ini. Bukan dari pengamat oposisi, melainkan langsung dari mulut Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa.

Dalam pernyataannya yang dikutip CNBC Indonesia, Purbaya secara terang-terangan menelanjangi narasi "ketakutan" yang selama bertahun-tahun dicekoki ke rakyat Indonesia.

"Itu saya bisa simpulkan itu mencari excuse (alasan) ketika kita gak becus ngurus ekonomi dalam negeri," tegas Purbaya.

Bagi KunciPro Research Institute, pernyataan ini bukan sekadar gimmick politik. Ini adalah pengakuan dosa dari dalam Istana, konfirmasi valid atas dugaan manipulasi psikologis (Systemic Gaslighting) yang dilakukan negara terhadap warganya sendiri.

Padahal kita tahu bahwa kekuasaan itu benci mengakui kesalahan dan ketidakmampuan, tapi kali ini pernyataan berbeda, sebuah anomali yang jarang terjadi atau bahkan sulit terjadi pada tubuh pejabat.

1. Runtuhnya Mitos "Kambing Hitam" Global

Selama bertahun-tahun, setiap kali ekonomi lesu, mantra saktinya selalu sama: "Ini karena ketidakpastian global".

Namun hari ini, Purbaya mematahkan narasi itu semua. Ia menegaskan bahwa 90% ekonomi Indonesia dipengaruhi permintaan domestik, bukan global. Pernyataan ini sejalan dengan analisis kami sebelumnya bahwa ketakutan berlebihan soal perang dunia hanyalah pengalihan isu, seperti yang pernah diulas dalam SBY Tenangkan Tidak Ada Perang Dunia ke III, Tapi Saya Mencium Bau Amis Perang Ekonomi!.

Pejabat lama yang dulu bersembunyi di balik data IMF yang pesimis kini tak punya tempat sembunyi. Apalagi, Purbaya sendiri menyebut "IMF kadang ngawur". Sikap optimis Menkeu sangat kita perlukan untuk mengangkat moral masyarakat yang mulai khawatir.

Tapi seperti yang telah saya bahas sebelumnya, Pemerintah harus hati-hati membedakan optimis realistis dan optimis yang semu: IMF Pangkas Ekonomi RI Jadi 5%, Pejabat Masih 'Pede' 5,4%: Awas, Selisihnya Dibayar Pakai Pajak Rakyat!.

2. Paradoks "Domestic Demand": Memeras Sapi Kurus?

Purbaya sesumbar: "Selama saya bisa jaga domestic demand (permintaan dalam negeri), ekonomi kita masih akan tumbuh."

Di atas kertas, teori ini benar. Tapi mari kita bedah realitas lapangan. Dari mana datangnya "Permintaan Domestik" jika dompet rakyat bocor halus?

Bagaimana rakyat mau belanja menopang ekonomi jika uangnya habis tersedot wabah digital yang dibiarkan negara? Ingat prediksi kami soal Prediksi Mengerikan WEF 2026: Pengangguran RI Meledak, Siap-Siap Kriminalitas & Wabah Judol Merajalela.

Belum lagi fenomena kelas menengah kota yang terjebak ilusi gaya hidup, membuat tabungan mereka minus, seperti dalam analisis DAYA BELI TINGGI PENDAPATAN KECIL: INFLASI GAYA HIDUP KOTA. Pemerintah ingin mengandalkan konsumsi rakyat, tapi kebijakan fiskal justru "membunuh" kemampuan belanja rakyat itu sendiri.

Masalahnya adalah Menteri Keuangan menjaga permintaan dalam negeri agar tetap stabil. Kata "menjaga" sangat erat kaitannya dengan pasif menunggu bola. Bagaimana kita bisa tumbuh jika hanya mengandalkan strategi bertahan, kenapa tidak agresif menjemput bola?

3. Sistem yang Bocor: Uang Lari ke Mana?

Pengakuan "Gak Becus" ini juga membuka tabir kebocoran sistemik. Uang yang beredar di masyarakat tidak menjadi demand produktif karena lari ke platform penipuan dan algoritma asing yang gagal diawasi.

Lihat saja bagaimana platform kerja profesional pun kebobolan, seperti temuan investigasi kami: JOB PORTAL: Kenapa JobStreet, LinkedIn, Glints & Kitalulus Kebobolan Loker Judi & Penipuan?. Bahkan raksasa teknologi ikut andil membiarkan iklan ilegal lolos, sesuai audit forensik dalam [AUDIT META] Algoritma Bias: Kenapa Iklan Judi Ilegal Lolos Terus?.

Jika kebocoran ini tidak ditambal, "Domestic Demand" hanyalah mimpi siang bolong.

KESIMPULAN: Masalah "Otak", Bukan Cuma Pejabat

Jika Menkeu sudah mengakui adanya "ketidakbecusan" masa lalu, maka rakyat menuntut pertanggungjawaban. Pengakuan dosa saja tidak cukup.

Apakah pergantian pejabat akan menyelesaikan masalah? Belum tentu. Seperti yang pernah KunciPro tegaskan, masalah negeri ini sudah mengakar: Kenapa Ganti Presiden & Sistem Aja Gak Cukup? Ini Masalah "Otak", Bukan Konstitusi!.

Terima kasih Pak Purbaya atas kejujurannya. Sekarang rakyat menunggu: Setelah mengakui 'Gak Becus', lantas mau apa? Jangan sampai beban kesalahan masa lalu kembali dibebankan ke pundak rakyat kecil.


KUNCIPRO

Research Institute

πŸ‘‰ BACA VISI, MISI & STANDAR EDITOR

Komentar

Post a Comment